Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Tafsir Al Maidah Ayat 51





Ayat ini merupakan kalimat berita [kalam al-khabar] yang berisi larangan (nahy). Ini karena adanya huruf nafyu al-istimrâr “lan” yang bermakna “penafian untuk selamanya”. Artinya, Allah SWT melarang untuk selamanya orang kafir menguasai orang Mukmin.

Dalam konteks ayat di atas, Allah menggunakan kata lan yang merupakan huruf nafi, yakni nafy al-istimrâr atau nafy at-ta’bîd (penafian secara permanen). Dengan kata ini, Allah hendak menyatakan penafian untuk selama-lamanya. Yang menjadi obyek penafian adalah sabîl[an]. As-Suddi mengartikannya dengan hujjah (argumentasi). Ayat ini merupakan janji Allah yang akan memenangkan hujjah orang Mukmin atas orang kafir di akhirat. Ikrimah dari Ibn ‘Abbâs mengartikannya dengan zhuhûr (kemenangan).[5]
Karena itu, berdasarkan ayat ini semua ulama sepakat, bahwa haram mengangkat orang kafir menjadi pemimpin kaum Mukmin (Ibnu al-‘Arabi, Ahkâm al-Qur’ân, I/641).
Wacana Tafsir: Haram Memberi Orang-orang Kafir untuk Menguasai Orang-orang Mukmin
Di sisi lain, para fukaha telah menggunakan ayat ini sebagai pijakan untuk menarik hukum (istidlâl) dalam banyak hal. Namun, secara umum, adalah menyangkut soal keharaman memberikan peluang, kesempatan, atau jalan kepada orang-orang kafir yang memungkinkan mereka bisa menguasai dan mengalahkan orang-orang Mukmin. Penjelasannya sebagai berikut:

1. As-Syafi‘i mengharamkan orang-orang kafir mempunyai budak Muslim;[11] harta seorang Muslim juga haram dimiliki orang kafir, setelah mereka dikalahkan dan dicengkram oleh orang kafir;[12] juga haram meminta bantuan orang kafir.[13] Dengan ayat yang sama, pengikut As-Syafi‘i menyatakan, jika istri orang kafir ahli dzimmah telah memeluk Islam, dia wajib bercerai dengan suaminya yang masih kafir.[14]
2. Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah mengharamkan cengkraman orang kafir terhadap orang Muslim, yang karenanya orang Muslim terpaksa harus menyerahkan kepemilikan mereka kepada orang kafir, dan mereka pun diusir dari sana.[15]
3. Jumhur ulama menyatakan, bahwa wanita kafir tidak berhak atas hadhânah (hak mengasuh) anak Muslim, karena hadhânah (hak mengasuh) merupakan masalah wilâyah (perwalian), yang haram diberikan kepada orang kafir.[16]
4. Ibn Hazm menyatakan, bahwa status darah dan anggota tubuh mereka tidak sama dengan orang Muslim sehingga mereka tidak bisa menuntut diyât (uang tebusan) atau qishâsh atas darah dan anggota tubuh mereka.[17]
5. Abu al-Barakat menyatakan keharaman menjadikan orang kafir sebagai sekretaris atau pembantu administrative—tentu pembantu kepala negara bidang pemerintahan—wali atau khalifah;[18] termasuk menjadi kepala negara itu sendiri.
Penarikan hukum-hukum di atas dari ayat wa lan yaj‘ala Allâh li al-kâfirîna ‘alâ al-Mu’minîna sabîl[an] ini bisa dimaklumi. Sebab, dari aspek dalâlah-nya, kata sabîl[an] yang berbentuk nâkirah (umum) berada dalam posisi sebagai obyek penafian atau nakirah fî shiyagh an-nafy, tidak lain merupakan shiyâgh al-‘umûm (bentuk struktur kalimat umum), yang bisa berkonotasi: semua aspek yang bisa digunakan sebagai jalan untuk menguasai dan mengalahkan orang Muslim.
Dengan demikian, ayat tersebut tidak hanya berkonotasi janji, tetapi juga larangan yang tegas (nahy[an] jâzim[an]), atau tahrîm. Inilah yang disepakati oleh para fuqaha. Ruang lingkup larangannya, dilihat berdasarkan aspek keumuman dalâlah-nya, meliputi semua aspek yang bisa digunakan sebagai jalan untuk menguasai dan mengalahkan orang Muslim. Ini berarti meliputi aspek ekonomi, politik, pendidikan, militer, social, dan budaya. Dalam bidang ekonomi, misalnya, haram hukumnya membuka investasi asing, utang luar negeri, perdagangan bebas, dan lain-lain, yang semuanya bisa menjadi sarana kaum Kafir imperialis untuk menguasai perekonomian domestik umat Islam. Di bidang politik, misalnya, bantuan Amerika—termasuk UNDP—untuk penyelenggaraan pemilu, juga bisa menjadi alat politik negara imperialis kafir untuk menguasai negeri kaum Muslim. Karenanya, bantuan tersebut juga termasuk perkara yang diharamkan berdasarkan ayat ini. Di bidang pendidikan, misalnya, pertukaran pelajar atau beasiswa belajar di luar negeri, yang bisa dijadikan sebagai alat untuk membeli kaum terpelajar sebagai agen kaum imperialis kafir juga termasuk keharaman yang dinyatakan dalam ayat ini. Pendek kata, semua aspek yang bisa digunakan sebagai jalan untuk menguasai dan mengalahkan orang Muslim termasuk dalam keharaman yang dinyatakan dalam ayat ini. Wallâhu a‘lam. [tafsir al waie. Ust. Labib]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tafsir Al Maidah Ayat 51"

Posting Komentar