Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Menyoal Permintaan Maaf Ahok atas Penghinaan Al Qur’an

Penghinaan Al Qur’an


Pada Senin (10/10) pagi, Ahok mengatakan dirinya meminta maaf kepada umat Islam terkait ucapannya soal surat Al Maidah ayat 51 yang menurut pengamatan sejumlah pihak telah melakukan penghinaan terhadap Al Qur’an. "Saya sampaikan kepada semua umat Islam atau kepada yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam atau apa," kata Ahok di hadapan wartawan di Balai Kota DKI Jakarta. Ahok kemudian meminta agar kegaduhan terkait ucapannya tersebut tidak diperpanjang. "Saya minta maaf atas kegaduhan ini. Saya pikir komentar ini jangan dilanjutkan lagi. Ini tentu mengganggu keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara," jelasnya.
Terkait permintaan maaf Ahok ini, Ismail Yusanto, selaku Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia mempertanyakan mohon maafnya Ahok, “Kalau saya baca Ahok ini tidak sungguh-sungguh meminta maaf,” tegasnya. Alasannya, tidak nyambung antara kesalahannya dan permintaan maafnya. Ahok itu dikatakan dari pidatonya di Kepulauan Seribu telah menghina Al-Qur’an.
Lanjut menurut Ismail Yusanto permintaan maafnya itu tidak terkait Al-Qur’an, tetapi dia katakan terkait dengan kegaduhan yang telah timbul. "Jadi tidak nyambung dengan persoalan yang timbul, apa masalahnya kemudian dia minta maaf sebelah mana,” tambahnya.
Di samping itu, Ismail Yusanto pun mengingatkan bahwa permintaan maaf Ahok ini harus diwaspadai atau dikritisi karena dari awal Ahok itu tidak ingin minta maaf. Kemudian dia mengeluarkan penjelasan yang justru semakin menambah penghinaan dia. Ismail Yusanto mengungkap, "Kalau kemarin di Kepulauan Seribu dia menghina Al-Qur’an, sekarang dia menghina para ulama, para ustadz dengan sebutan rasis, pengecut segala macam itu”
Selain itu Ismail Yusanto juga menyatakan bahwa publik harus melihat Ahok ini bukan hanya di dalam konteks satu peristiwa ini tetapi juga keseluruhan peristiwa sebelumnya yang menghina Islam termasuk apa yang terjadi di Kepulauan Seribu.

 Tindak Tegas Penghina Al Qur’an dan Ulama
Aulia Advertising

Terkait dengan kejadian ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pun setelah melalui proses pengkajian mendalam  telah mengeluarkan kesimpulan bahwa Gubernur DKI Jakarta tersebut telah jelas menghina Al-Qur’an dan ulama. “Berdasarkan hal di atas, maka pernyataan Gubernur DKI Jakarta dikategorikan: (1) menghina Al-Qur’an dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum,” tegas MUI Pusat seperti tertuang dalam surat resmi yang ditandatangani  Ketua Umum MUI Pusat Dr KH Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal Dr H Anwar Abbas, MM, MAg, Selasa (11/10/2016) di Jakarta.

Kesimpulan MUI tersebut didasarkan pada lima kenyataan terkait pernyataan Ahok. Pertama, Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin. Kedua, ulama wajib menyampaikan isi surah al-Maidah ayat 51 kepada umat Islam bahwa memilih pemimpin Muslim adalah wajib. Ketiga, setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surah al-Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pemimpin. Keempat, menyatakan bahwa kandungan surah al-Maidah ayat  51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al-Quran. Kelima, menyatakan bohong terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat  51 tentang larangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin adalah penghinaan terhadap ulama dan umat Islam.

Oleh karenanya MUI juga menyatakan aparat penegak hukum wajib menindak tegas setiap orang yang melakukan penodaan dan penistaan Al-Quran dan ajaran agama Islam serta penghinaan terhadap ulama dan umat Islam sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan selanjutnya menurut MUI,  dengan ucapan permintaan maaf Ahok terkait ucapannya itu tidak berarti masalah selesai. Ahok harus tetap mempertanggungjawabkan perbuatannya (Tempo.com, 10/10). Senada dengan MUI Pusat, Jubir HTI, Ismail Yusanto kembali menegaskan bahwa meski Ahok telah dianggap meminta maaf, namun proses hukum untuk mempidanakannya tetap harus berjalan. “Ahok minta maaf ? Hukum harus tetap berjalan!” tegas Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto kepada mediaumat.com, Senin (10/10/2016)

Menurut KUHP Pasal 156a itu kan harus dihukum. Sama seperti orang yang melanggar lalu lintas itu tidak bisa sekadar meminta maaf kepada polisi lalu bebas tidak ditilang. Polisi memaafkan tetapi tetap ditilang. Dulu juga penistaan pernah dilakukan Arswendo Atmowiloto. "Arswendo dulu menghina Rasul lalu meminta maaf tetap saja dipenjara,” ungkapnya.

Ancaman Allah SWT kepada Pembela Penghina Agama Allah

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan (QS Hud [11]: 113).
Dalam ayat ini ditegaskan, kaum Mukmin dilarang merasa ridha, senang, dan condong terhadap pelaku semua jenis kezhaliman itu. Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengutip beberapa penjelasan para ahli tafsir tentang makna al-rukûn. Qatadah berkata, ”Artinya, janganlah kalian mencintai dan menaati mereka.” Ibnu Juraih berkata, ”Janganlah condong atau cenderung kepadanya.” Abu al-Aliyah berkata, ”Janganlah kalian meridhai perbuatan mereka.” Ditegaskan al-Qurthubi semua pengertian itu saling berdekatan satu sama lain. Menurut Abu Hayan al-Andalusi dalam tafsirnya, al-Bahr al-Muhîth, makna al-rukûn adalah al-mayl al-yasîr (kecenderungan ringan). Ini berarti setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezaliman. Bukan hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak diperbolehkan. Ungkapan  al-ladzîna zhalamû kian mengukuhkan ketentuan tersebut. Sebab, ungkapan al-ladzîna zhalamû (orang yang berbuat dzalim) lebih ringan daripada al-zhâlimîn (orang yang dzalim). Jika kepada orang yang berbuat zhalim saja sudah dilarang cenderung kepadanya, lebih-lebih kepada orang-orang yang sudah terkategori zhalim. Al-Zamakhsyari memaparkan beberapa perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai cenderung kepada pelaku perbuatan zhalim. Di antaranya adalah tunduk kepada hawa nafsu mereka, bersahabat dengan mereka, bermajelis dengan mereka, mengunjungi mereka, bermuka manis dengan mereka, ridha terhadap perbuatan mereka, menyerupai mereka, dan menyebut keagungan mereka.

Menurut al-Qurthubi larangan ini juga sejalan dengan firman Allah Swt:
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu] (QS al-An’am [6]: 68)
Perbuatan zhalim itu yang tidak boleh diridhai tidak hanya berlaku terhadap kaum Musyrik, namun berlaku umum. Demikian penegasan al-Syaukani dalam tafsirnya Fath al-Qadîr. Termasuk pula di dalamnya terhadap tindakan dan perilaku zhalim penguasa. Larangan cenderung kepada pelaku kezhaliman itu terkatagori haram. Sebab, orang yang mengerjakannya diancam dengan sanksi yang amat berat, yakni disentuh dengan api neraka. Allah Swt berfirman: fatamassakum al-nâr (menyebabkan kamu disentuh api neraka). Tak hanya itu, mereka diancam tidak akan mendapat penolong. Allah Swt berfirman: Wamâlakum min dûniLlâh min awliyâ’ tsumma lâ tunsharûn (dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan).


Bertolak dari ayat tersebut dan penjelasan para ulama, maka sikap ridha dan senang, apalagi mendukung Ahok merupakan perbuatan terlarang yang diancam dengan neraka. Oleh karenanya kepada segenap umat islam khususnya kepada para Ustadz dan Ulama untuk tetap teguh dalam menyampaikan kebenaran Al Quran, yang merupakan wahyu Allah SWT yang pasti benar dan pasti akan menuntun manusia kepada petunjuk dan jalan kebaikan. Kemudian selanjutnya bahu membahu  untuk terus berjuang bagi tegaknya Syariah dan Khilafah, yang dengannya kesucian dan kehormatan Islam, termasuk kitab sucinya akan terlindungi. Tanpa Khilafah, al-Quran tidak ada yang melindungi. Penistaan terhadap kitab suci itu akan terus berulang, bahkan di negeri kaum Muslim sendiri, sebagaimana terjadi saat ini. Karena itu sejatinya kita segera bergerak untuk bersama-sama mewujudkan kembali perisai/pelindung Islam dan kaum Muslim, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallahu a’lam ( Oleh: Muh. Yuslan Abu Fikri, SE.)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menyoal Permintaan Maaf Ahok atas Penghinaan Al Qur’an"

Posting Komentar