Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

PEJUANG SEKULAR atau KORBANNYA….?

Oleh; Nursyamsi Partai Ideologis


Saya tidak setuju kelompok TAKFIRI, begitu juga bukan berarti saya setuju dg tulisan Ahmad Sarwat ini. Tetapi dari link ini saya hanya meminjam lambang tangan yg mengepalkannya sambil mengatakan NKRI HARGA MATI.
Sementara ini salah satu korban sekularisasi jika sebuah sistim sekular dikatakan HARGA MATI. Padahal dari sejak kelahirannya sdh beberapa kali RI ini MATI dan HIDUP hingga ahirnya diujung 2016 ini NKRI memiliki ruh yg beda saat dilahirkan, yaitu NEO LIBERALISME :
Sepanjang sejarah Islam ketika dibandingkan dengan keberadaan Khilafah hingga runtuhnya tahun 1924 di Turki, umat Islam saat ini bisa dikatakan yang sangat terparah TAUHID mereka. Sekalipun jika dibandingkan dengan era penjajahan Barat yang kafir pembawa racun sekular tsb.
Jika kita tidak memahami politik Islam ataupun qiyadah fikriyah Islam, maka bisa dipastikan kita akan termasuk pada dua golongan itu. PEJUANGNYA atau KORBANNYA…..
Jelas, sekularisme datang dari pemikiran kufur yang tidak pernah ada didalam kehidupan apalagi didalam pemikiran Islam. Pemikiran ini datang dari Barat atas kompromi agama dan politik dimasa Revolusi industri hancurnya zaman kegelapan Eropa.
Saya tidak mau membahas panjang lebar tentang sejarah sekular itu, ataupun difinisi dari istilah itu, apalagi mengungkap dialektika ide sekular pro kontra cendekiawan Barat dan atheis seperti Auguste Comte (1798-1857), Karl Marx (1818-83), Emile Durkheim (1858-1917), Max Weber (1864-1920) dan Bryan Wilson yang intinya mereka sebenarnya para pemikir bingung yang tidak mengerti jalan hidup serta tidak percaya bahwa Islam memiliki sistim hidup serta metode perjuangannya untuk meraih sistim tersebut. Apa lagi mereka semua adalah orang- orang yang buta, tuli dan bisu terhadap sistim Islam yang eksis selama 14 abad. Tidak ada satupun sistim yang eksis selama itu. Hal ini artinya bahwa panjangnya eksistensi tegaknya sebuah sistim seharusnya menjadikan bagi mereka sebagai standard sebuah sistim yang stabil, atau paling tidak menjadikan perbincangan dikalangan mereka yg mereka hidup dizaman yang sama walaupun “planet mereka berbeda”.
Pembahasan sekularisasi yang menimpa kaum muslimin saat ini bisa dikatagorikan bagian dari “ummul jaroo’im” (induk dari segala kejahatan )…. Bayangkan, akibat dari pemikiran sekularlah agama Islam yang lengkap serta mampu menjadi solusi dari segala macam permasalahan hidup, menjadi mandul. Dasar keyakinan umat Islam yang sering disajikan para ulama tentang TAUHID menjadi olok-olokan semata. Misalnya, mereka membahas bid’ah terhadap moment kelahiran Nabi, tetapi didalam kehidupan yang lain mereka justru ikut andil didalam perayaan Negara, ataupun patuh pada pemimpin Negara yang tidak diajarkan oleh Allah swt dan Rosulnya.
Disinialah inti dari PERJUANGAN SEKULAR dan KORBAN dari SEKULARISASI…. Islam hanya sebatas kesadaran ruhiyah, tanpa bisa dijadikan sebagai WAY OF LIFE.
Kenapa Ulama dan pemerintah berpisah urusannya?
Di Indonesia kita mengenal MUI yang berbeda kekuasaannya dengan Pemerintah NKRI, di Saudi kita mengenal pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang berbeda wilayahnya dengan Ibnu Su’ud. Di Iran kita mengenal Khomeini, yang tidak boleh mencampuri urusan parlemen yang dipimpin oleh presiden. Ini semua buah dari SEKULAR dan korban SEKULARISASI.
Umaro dan Ulama berpisah, Alquran dan Konstitusi memiliki rel yang berbeda. Urusan kuburan, kematian, shalat, puasa urusan Ulama… Adapun urusan hubungan politik, bilateral dan saling ta’awwan atas kedosaan dan permusuhan antar Negara adalah urusan pemerintah atau kerajaan. Ulama disuruh diam saja tidak boleh melakukan protes atau unjuk rasa. Apalagi mengkritik didepan umum kepada pemerintah. Padahal didalam konteks pemberantasan kemungkaran, hal ini membutuhkan sinergi antara ulama dan umara, bersama-sama dengan umat (rakyat) secara umum. Pentingnya kedudukan ulama dan umara (penguasa) pun diungkapkan dalam sya’ir Imam al-Hasan al-Bashri (w. 110 H), sebagaimana dinukil al-Hafizh Ibn al-Jawzi (w. 597 H), menuturkan:
“Jika tiada ulama maka sungguh manusia bagaikan binatang, dan jika seandainya tiada al-sulthân (al-khalifah) maka sungguh manusia akan menzhalimi satu sama lain.”
Begitu juga sebaliknya, jika tiada penguasa yang menegakkan hukum-hukum Allah, memelihara masyarakat dari kemungkaran maka terjadi fitnah, Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Fitnah terjadi jika tidak ada Imam (Khalifah) yang berdiri untuk mengatur manusia (dengan hukum-hukum Islam-pen.).” Atsar salafuna al-shalih ini sejalan dengan ketetapan Islam berkenaan dengan tanggung jawab penguasa dan tokoh umat, Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhârî, Muslim dll)
Imam al-Baghawi (w. 516 H) menjelaskan makna al-râ’i dalam hadits ini yakni pemelihara yang dipercaya atas apa yang ada padanya, Nabi -shallallâhu 'alayhi wa sallam- memerintahkan mereka dengan menasihati apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan memperingatkan mereka dari mengkhianatinya dengan pemberitahuannya bahwa mereka adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka al-ri’âyah: adalah memelihara sesuatu dan baiknya pengurusan. Dimana di antara bentuknya adalah pemeliharaan atas urusan-urusan rakyat dan perlindungan atas mereka. Inilah virus sekularisasi yang ditanamkan penjajah disaat kita “merdeka” seakan warisan dan amanah ini tidak boleh dilanggar oleh penguasa jika ingin duduk ditampuk kekuasaan.
Sebagai khotimah didalam hal ini, dimanakah posisi kita? Apakah kita sebagai pejuang sekularisme ataupu korban dari sekularisasi? Kedua-duanya sungguh hina…. Sedikit saja kita condong pemikiran kufur tersebut, maka Allah swt akan mengancam dengan azab yang berganda-ganda didunia dan diakhirat;
"....إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا"
"....kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami".

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PEJUANG SEKULAR atau KORBANNYA….?"

Posting Komentar