Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Vaksin Palsu Terdeteksi Beredar di Banten

SERANG – Vaksin palsu yang kini menjadi perbincangan berbagai pihak, sudah beredar di Banten. Hal itu ditandai dengan adanya temuan sampel vaksin di Tangsel.
Diketahui, Bareskrim Polri berhasil membongkar sindikat pengedar vaksin palsu untuk bayi‎. Sejauh ini, polisi berhasil menemukan sampel vaksin palsu di wilayah DKI Jakarta, Banten (Tangsel), Jawa Barat, Semarang, dan Yogyakarta.
Kepala BPOM di Serang, Mohammad Kashuri, Senin (27/6) mengatakan, sudah melakukan penyelidikan dan penyidikan mulai dari 2013. Waktu itu disita vaksin dengan nilai Rp 150 juta dan kasusnya sudah ditindaklanjuti dan divonis.
“Tahun 2016, kami menelusuri vaksin palsu di beberapa rumah sakit. Pada April 2016 kami melakukan penangkapan pedagang besar vaksin palsu dan penyalurnya. Saat ini prosesnya sedang disidik dan sudah tahap satu, penyelidikan jaksa. Tapi apakah berkaitan dengan Tangsel kita belum menemukan titik temu,” ujarnya.
Kashuri menuturkan, pelaku vaksin palsu itu banyak. Sebab, banyak obat-obatan yang bocor ke jalur ilegal. Pihaknya sudah menelusuri rumah sakit dan berkoordinasi dengan Dinkes untuk mendeteksi masih adanya vaksin palsu, serta kemungkinan adanya pasien yang diberikan vaksin palsu.“Apabila ditemukan pasien yang menerima vaksin palsu maka pemerintah akan memberikan vaksin ulang. Dinkes juga melakukan pembinaan kepada rumah sakit agar membeli obat di jalur legal. Sebab, vaksin palsu banyak ditemukan di jalur ilegal,” tuturnya.
Pada tahun 2016, tambah Kashuri, operasi yang dilakukan BPOM Serang hingga Juni sudah ditemukan delapan kasus vaksin palsu. Pada tahun 2015, ditemukan sepuluh kasus. Penanganan kasus tersebut mendapat dukungan penuh dari Polda Banten dan Polda Metro Jaya.
Wadir Korwas PPNS Polda Banten, AKBP Budi Sartono mengatakan, pihaknya sedang menunggu kabar dari Mabes Polri tentang keberadaan vaksin palsu. Apabila peredarannya tervalidasi di Banten maka Polda Banten siap membantu untuk mengembangkan kasus tersebut.
“Sementara ini kami masih menunggu kabar, karena di Mabes masih dalam pengembangan. Kalau memang ada nanti kita bantu telusuri dengan BPOM,” katanya.
Ketua Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (PC IAI) Kota Serang, Usep Khudory mengatakan, yang harus lebih diwaspadai adalah pada layanan kesehatan swasta seperti rumah sakit swasta, apotek, dan klinik. Jika untuk di intansi pemerintahan atau layanan kesehatan di bawah pemerintahan yakni puskesmas, dan rumah sakit pemerintah itu dijamin aman.
“Kalau untuk intansi pemerintah tidak perlu khawatir, karena sistem pembeliannya aman melalui jalur resmi yakni e-katalog,” ungkap Usep.
Plt Kepala Dinkes Kota Serang, Toyalis mengatakan, Dinkes Kota Serang tidak pernal membeli vaksin, tetapi langsung dikirim oleh Dinkes Banten. “Sebenarnya, kalau untuk vaksin di setiap puskesmas itu sumbernya dari pemprov,” katanya.
Namun, ujar dia, sebagai upaya mengantisipasi peredaran vaksin palsu pihaknya sudah menginstruksikan seluruh apotek, rumah sakit, pelayanan imunisasi swasta lainnya untuk melakukan pengecekan serta melaporkan bila terindikasi ada vaksin palsu.
Di Kabupaten Serang, Dinkes Kabupaten Serang hingga saat ini belum menemukan adanya vaksin palsu mengingat pengadaan vaksin dilakukan satu pintu melalui Kemenkes. Untuk meminimalisasi kemungkinan masuknya vaksin palsu, Dinkes akan memperketat pengawasan ke pelayanan kesehatan swasta.
“Kami mendapatkan vaksin satu pintu yang didrop dari Kemenkes. Jadi yang kami distribusikan ke puskesmas-puskesmas dari Kemenkes. Insya Allah gak ada yang palsu. Kami akan perketat pengawasan ke pelayanan kesehatan swasta tapi yang jelas sampai saat ini belum ditemukan vaksin palsu di Kabupaten Serang,” katanya.
Kepala Dinkes Cilegon Arriadna mengungkapkan hingga saat ini Kota Cilegon belum menemukan peredaraan vaksin palsu. “Sampai sekarang untuk di Kota Cilegon belum menemukan vaksin palsu. Semoga saja vaksin tersebut tidak ditemukan. Karena pastinya akan merugikan masyarakat,” katanya.
Arriadna mengungkapkan, pengadaan vaksin di kota langsung didatangkan dari Kemenkes.
“Alhamdulliah Cilegon belum pernah mengambil dari mana pun. Kami langsung minta ke kementerian untuk pengadaan vaksin,” ungkapnya.
Direktur RSUD Cilegon Zainoel Arifin mengungkapkan, vaksin yang diberikan langsung untuk pasien langsung didatangkan dari Kemenkes, bukan dari swasta maupun pribadi.
Sementara, Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Agung Setya mengatakan, peredaran vaksin palsu kemungkinan besar sudah tersebar di perusahaan medis. “Ada indikasi itu. Karena mereka sudah beraksi 13 tahun,” kata Agung di Mabes Polri, Jakarta, Senin (27/6).
Dalam kasus itu Agung menduga, besar kemungkinan adanya potensi oknum bermain di rumah sakit. Hanya, untuk mengetahui sejauh mana vaksin palsu ini beredar, Agung masih memetakannya.
‎Oleh karena itu, kata Agung, ‎pihaknya akan memanggil BPOM, Kementerian Kesehatan, dan produsen pembuat vaksin resmi, hari ini, Selasa (28/6). “Kami akan bahas bagaimana cara pencegahan dan penghentian pasokan distribusi ini,” pungkas Agung.
Selain itu, Bareskrim Polri juga terus mengembangkan kasus pemalsuan vaksin balita yang peredarannya mencakup di seluruh Indonesia sejak 2003 silam. Kemarin, korps baju cokelat itu kembali menangkap dua orang yang terlibat. Keduanya diduga distributor vaksin palsu di Semarang, yakni P dan M.
“Keduanya kami tangkap di sebuah hotel di Semarang, hari ini, pukul 09.00,” ujarnya.
Agung menerangkan, kedua pelaku disinyalir menjual vaksin palsu di rumah sakit dan apotek di Semarang. Hanya, kata Agung, pihaknya masih memeriksa keduanya karena baru saja ditangkap. “Masih kami periksa dari mana mereka dapatkan barang-barang itu,” ucap Agung.
Dalam penangkapan tersebut, pihaknya menyita sejumlah barang bukti berupa rekening dan ATM. Agung menjelaskan, pihaknya akan mengaudit isi rekening kedua pelaku guna mendalami kasus ini. “Termasuk soal omset dan segala macam. Kami periksa dulu ya isi ATM-nya,” kata Agung.
Kedua pelaku merupakan jaringan yang masih berhubungan dengan beberapa tersangka yang ada di Jakarta. Sejauh ini, kata Agung, penyidik berhasil menangkap 15 orang yang dianggap bertanggung jawab atas kasus pemalsuan vaksin bayi.‎
Mereka antara lain, tersangka S dan I merupakan pengepul botol bekas‎ untuk tempat vaksin palsu. Selain itu, tersangka SU dan SA berperan membuat dan mencetak label dan logo vaksin palsu. R, G, S, dan N pembuat vaksin palsu.‎ Sedangkan yang berperan sebagai distributor ialah, T,D, F, J, dan A.
Sementara itu, terbongkarnya sindikat pemalsu vaksin untuk balita meresahkan semua orang tua. Apalagi, dari pengakuan para pelaku, vaksin palsu menyebar ke seluruh Indonesia sejak 13 tahun lampau atau 2003. Muncul desakan agar Kemenkes menarik seluruh produk vaksin.
Terkait dengan desakan tersebut, Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Maura Linda Sitanggang menegaskan, hal itu tidak mungkin dilakukan. Sebab, menarik vaksin tidak bisa sembarangan. Tidak bisa dipukul rata bahwa seluruh vaksin ilegal atau palsu.
Cara membedakan vaksin palsu pun kadang tidak mudah. Misalnya, tidak ada nomor izin edar. Dengan begitu, vaksin harus diuji di laboratorium. “Vaksin legal tidak relevan untuk ditarik karena sangat diperlukan,” katanya.
Oleh karena itu, BPOM bersama dengan Dinkes saat ini terus melakukan penelusuran ke seluruh fasilitas kesehatan. Pihak rumah sakit pun sudah diinstruksi untuk melakukan pengecekan terhadap distribusi obat masing-masing.(suf/dwa/ned/eua/jpnn/bnn)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Vaksin Palsu Terdeteksi Beredar di Banten"

Posting Komentar