Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Warem Alang-Alang Bertarif Rp 35 Juta

SERPONG – Warung remang-remang (warem) di Alang-Alang, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong sudah mulai dibongkar sendiri pemiliknya. Meski begitu masih ada sejumlah cafe yang berdiri kokoh. Rencananya pada Kamis (12/5) besok, kawasan tersebut bakal diratakan dengan tanah oleh Pemkot Tangsel.
Seperti di malam hari, suara musik disco remix terdengar nyaring dari sebuah rumah ketika Tangsel Pos berkunjung ke Alang-Alang, kemarin siang. Tak sulit untuk masuk ke kawasan ini. Meski letak warung remang-remang tak di pinggir jalan, namun akses untuk menuju tempat hiburan itu bisa dilewati kendaraan roda empat.
Kondisi jalannya pun sudah dipaving block. Deretan pohon palem menghiasi di kiri dan kanan sisi jalan. Setelah deretan pohon palem, terdapat deretan rumah berada di jalan berkelok seperti letter S. Dari sini, sudah terlihat hamparan pohon alang-alang dan rerumputan liar.
Di lokasi itu berdiri warung remang-remang berupa bangunan semi permanen dan permanen milik warga sekitar yang diduga kerap dijadikan tempat prostitusi terselubung. Di Jalan Swadaya RT 01/06 Kelurahan Buaran ini memang pusatnya tempat hiburan berupa cafe dan karaoke.
Rum, wanita paruh baya yang mengaku sebagai penduduk setempat menerangkan sejak para pemilik bangunan itu menerima surat peringatan pertama, mereka sudah ada yang mulai membongkar bangunannya.
“Sekarang sudah mulai sepi sejak ada surat peringatan pertama hingga ketiga kali. Mereka pergi entah kemana tapi, kami mengira mereka balik kekampung halamannya,” tutur wanita berkacamata mengenakan daster motif kembang berwarna merah ini.
Rum mengaku memiliki bangunan yang dikontrakan kepada pengelola cafe per tahun Rp 35 juta. Persoalan mau digunakan untuk tempat nyanyi atau hal lain, sepenuhnya Rum menyerahkan kepada penyewa.
“Itu hak penyewa untuk apa. Kalu kami lihat setiap malam memang tempatnya untuk karaoke, ada beberapa meja dan minuman secara terbuka tidak tertutup,” tuturnya.
Total rumah permanen milik warga yang disewakan ke pengelola warung remang-remang sekitar 35 unit. Satu rumah diperkirakan diisi oleh 4-5 ‘perempuan malam’ yang diketahui berasal dari Indramayu, Cirebon, Sukabumi, dan Karawang.
“Mereka bukan orang sini (Buaran-red) tapi, datang dari berbagai daerah. Termasuk para tamu malam hari datang dari berbagai daerah, mulai dari jalan kaki hingga naik mobil,” paparnya.
Di seberang deretan cafe, membentang lahan yang diketahui milik H Rudi, warga sekitar. Sepanjang mata memandang, lahan tersebut sebagian ditanami pohon singkong, selebihnya lahan kosong bekas ditempati 15 warung semi permanen. Di bagian sisi ada sisa pilar-pilar kayu penyangga warung dan reng untuk atapnya. “Warung yang dibongkar itu bangunan semi permanen karena mereka juga menduduki lahan orang,” tambahnya.
Kendati bagian besar bangunan semi permanan telah dibongkar ada beberapa saja masih berdiri kokoh. Sesuai rencana segera akan dirobohkan sendiri dan sisa kayunya akan dimanfaatkan.
“Jelas membuat resah warga sekitar khususnya warga asli. Tapi kalau bukan pemerintah yang turun tangan tidak mungkin bias, masalahnya mereka sudah puluhan tahun tinggal di sini dan mencari uang di sini,” kata Imron, tokoh pemuda Buaran.
Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Tangsel, Asrori menerangkan untuk melakukan penertiban Alang-Alang harus dilakukan dengan persuasif sekaligus memberikan sosialisasi bahaya penyakit masyarakat. Pemkot sebagai penanggung jawab ekseksusi lahan harus mengedepankan dialog supaya penertiban berlangsung aman dan lancar.
“Mengedepankan upaya dialogis agar tercipta nilai-nilai yang berorientasi pada keharmonisan dan kedamaian. Jangan sampai ada kesan memaksakan apalagi ditunggangi oleh mereka yang mengatasnamakan warga sekitar padahal, belum tentu mewakili warga yang lain,” terangnya.
Pemkot Belajar dari Kasus Dadap
Bentrok antara warga dengan aparat dalam pembongkaran di lokalisasi Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang harus menjadi pembelajaran bagi Pemkot Tangsel. Pasalnya, pada 12 Mei besok, aparat Satpol PP Kota Tangsel beserta petugas gabungan dari TNI dan Polri berencana menertibkan warung remang-remang di Alang-Alang, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong.
Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel, Moh Saleh Asnawi mengatakan pendekatan ekstra secara emosional kepada masyarakat di sekitar Buaran itu harus dilakukan, sebelum eksekusi pembongkaran.
“Tentunya kami berharap bentrok atau kericuhan tidak terjadi pada pembongkaran atau penertiban Alang-Alang nantinya. Kita ingin semua berlangsung kondusif dan aman,” ujarnya.
Terlebih lagi saat ini menurut Saleh, isu-isu pembongkaran dianggap oleh masyarakat sebagai penggusuran secara paksa, sehingga tidak jarang belakangan ini banyak penolakan terhadap praktik penggusuran meski sebenarnya itu dilakukan sudah sesuai dengan aturan yang ada.
Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel lainnya, Ahadi mengatakan dalam pembongkaran nanti juga harus melibatkan seluruh elemen dan juga SKPD. Misalnya, dari para tokoh agama dan masyarakat untuk memberikan pencerahan secara spritual.
“Tokoh agama harus diliibatkan, agar ada pencerahan secara spritual, agar mereka juga dapat kembali ke jalan yang benar. Karena tugas kita tidak hanya sekadar eksekusi penertiban tetapi, juga membina masayrakat itu,” ujarnya.
Selain pencerahan, harus dilibatkan juga dinas terkait industri kreatif. Agar setelah dibongkar para penghuni Alang-alang itu memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
“Tidak hanya diberikan pencerahan secara spritual, tetapi juga harus dipikirkan solusi ke depannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Karena biar bagaiamanapun ini tetap menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.(din/dra)

Sumber : Tangsel Pos On line

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Warem Alang-Alang Bertarif Rp 35 Juta"

Posting Komentar