Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Remaja Rawan Doktrin Radikalisme

CIPUTAT – Remaja menjadi sasaran utama dalam perekrutan teror di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Doktrin yang dilayangkan oleh paham radikalisme menjadikan anak muda militan dalam aksinya.
Pengamat Intelijen Wawan H Purwanto saat menjadi pembicara diskusi ‘‎Mengenal dan Menghindari Bahaya Radikalisme’ di Masjid Jami Ar-Riyadh, Ciputat Tangsel, Minggu (8/5) menegaskan, remaja jadi sasaran paling rawan. Indonesia memiliki ikatan batin yang kuat dengan jumlah mayoritas Islam di dunia, sehingga jika di Timur Tengah pecah dampaknya begitu terasa.
“Para kelompok teror kemudian merekrut anak muda. Kenapa anak muda yang direkrut, alasannya adalah anak muda ini militansinya sangat kuat, sehingga sangat mudah direkrut,” tutur Wawan.
Saat ini anak muda asal Indonesia telah berada di daerah konflik yang berafiliasi dengan gerakan radikalisme ISIS yang berlokasi di Suriah Timur Tengah.
“Untuk itu kepada anak muda agar waspada dan jangan tertipu dengan rayuan dari kelompok teror yang menyesatkan ini,” tambah Wawan.
Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Ayi Supardan menegakan jika paham radikalisme muncul saat kondisi negara sedang tidak stabil. Maka dagangan yang dijual kepada pemuda oleh kelompok radikal adalah tentang agama supaya mendapatkan simpati.
“Terorisme akan muncul dikala stabilitas nasional suatu negara itu sedang goyah dan aksi terorisme ini diawali dari sikap intoleran kemudian meningkat menjadi faham yang radikal,” papar Ayi.
Pentingnya menjaga stabilitas keamanan dilingkungan wajib dijaga bersama-sama. Maka dari itu masyarakat Tangsel jangan apatis dengan kondisi yang ada tapi harus ikut andil dalam membantu tugas kepolisian. “Tangsel merupakan daerah penyangga ibukota sehingga banyak warga luar Tangsel yang terlibat terorisme kemudian masuk kesini. Kebanyakan yang terlibat aksi terorisme bukan warga Tangsel,” pinta Ayi.
Mantan Aktivis Jamaah Islamiyah (JI) Abdurrahman Ayub menegaskan aksi teror yang dilakukan oleh kelompok radikal melalui cara yang tak sama, misalkan saja identitas berjenggot dan celana mengantung di mata kaki.
“Saat ini pelaku teror tidak menggunakan celana cingkrang dan berjenggot. Coba kita liat pelaku bom Tamrin yang menggunakan celana jeans dan tidak berjenggot. Jadi jangan masyarakat menuduh yang berjenggot dan celana cingkrang itu terlibat terorisme,” papar staff ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini.
Tidak dapat dipungkiri pemetaan kelompok radikalisme terus berupaya mengincar anak-anak muda. Benteng keagamaan yang kurang kuat menjadi alat pemicu mudahnya tergabung dalam kelompok yang keliru ini.
“Doktrin awalnya adalah jangan mau mengikuti Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila karena itu toghut. Setelah itu, akan didoktrin untuk mau melakukan bom bunuh diri dengan janji akan masuk surga dan dijemput oleh bidadari. Doktrin-doktrin ini akan merusak pikiran dan hati sehingga mau melakukan perbuatan keji seperti bom bunuh diri,” Abdurrahman merinci.
Kunci dalam menangkal ajakan untuk keluar dari adalah memahami dan mengamalkan Al Quran itu sendiri dan Hadist Nabi Muhammad SAW dengan benar.
“Tidak ada perintah untuk melakukan tindakan teror didalam Al-Quran yang ada adalah bagaimana menjadikan Islam sebagai Agama Rahmatan Lil ‘Alamin,” tutupnya.
Dalam diskusi itu dihadiri oleh tokoh masyarakat Tangsel Zarkasih Nur dan pejabat Pemkot Tangsel, Pelaksana tugas (Plt) Sekda Tangsel Muhamad.(din)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Remaja Rawan Doktrin Radikalisme"

Posting Komentar