Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

PKI Baru dengan Cita-Cita Lama

Mendadak kawan saya menyodorkan sebuah buku bersampul merah polos. Buku cetakan sederhana dengan kualitas cetak asal-asalan. Sama sekali tidak menarik.
Setelah saya buka, buku setebal 59 halaman itu ternyata berisi pedoman bagi anggota Partai Komunis Indonesia atau PKI. Di dalamnya ada artikel tentang cita-cita PKI, strategi mencapai cita-cita, tahapan-tahapan pelaksanaanya dan konstitusi partai yang berlaku bagi setiap anggota PKI.
Buku itu tidak menyebutkan nama penulisnya. Tetapi penerbit buku tertera ”Jalan Rakyat” dengan tahun penerbitan 2010. Buku itu terbit sebagai amanat kongres PKI ke-10. Berarti PKI ”yang ini” lahir tahun 2000, tak lama setelah Orde Baru tumbang.
Tidak jelas di mana PKI ”yang ini” berkongres saat itu. Tapi kawan saya yang antikomunisme itu menjelaskan, kongres PKI itu dilakukan di Grabag, Magelang, Jawa Tengah.
Meski PKI ”yang ini” baru berusia 16 tahun, tetapi ideologi yang diusung masih sama dengan PKI ”yang itu”, yakni PKI yang organisasi dan ajarannya sudah dinyatakan sebagai haram di NKRI, yakni Marxisme – Leninisme – Maoisme.
Dalam artikel pembuka, penulis anonim itu masih memuja pemikiran tokoh PKI ”yang itu” seperti Muso dan kawan-kawannya. Ide-ide lama para tokoh PKI itu kemudian disimpulkan ”tetap relevan” dengan menyandingkan kondisi kekinian.
Land reform melalui perampasan tanah dan kekayaan individu kaya dan korporasi-korporasi besar baik korporasi asing maupun lokal untuk dibagikan kepada rakyat miskin menjadi salah satu ”iming-iming” dalam mencari anggota.
Revolusi melalui perang rakyat menjadi jalan untuk merebut kekuasaan agar PKI bisa menerapkan ”kehidupan politik yang demokratis”. Kalimat ini seperti mengingatkan saya pada kisah-kisah pembantaian sadis yang dilakukan anggota PKI terhadap siapa saja yang menentang komunisme pada tahun 1948.
Lembaran hitam dalam perjalanan Republik Indonesia itu masih menyisakan jejak di berbagai kota di Pulau Jawa itu.Sebagian korban kekejaman PKI masih hidup. Sebagian saksi sejarah juga masih hidup. Lembaran ini sepantasnya ditutup selama-lamanya.
Karena itu, saya menilai pedoman hidup komunis dalam buku bersampul merah itu sebagai ideologi sesat. ”Ideologi komunis ini tidak sesuai dengan akal sehat saya,” komentar saya. ”Yang setuju dengan komunisme berarti akalnya tidak sehat,” jawab kawan saya sembari terkekeh.
Via FB Joko Intarto

(nahimunkar.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PKI Baru dengan Cita-Cita Lama"

Posting Komentar