Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

PANCASILA DAN BELA NEGARA



Di Poskan : Abu Nur Muhammad Ridwan Abdus Salam

Oleh: Mahbub Zarkasyi(Pengamat Politik Islam)
Allah SWT berfirman, _“Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta”._ *(TQS. Al-Anbiya’ [21]: 107)*
Menarik ketika berbicara _“Bela Negara"_ yang akhir-akhir ini ramai didengungkan oleh para petinggi negeri. Banyaknya sepanduk ditebar disudut-sudut kota, ramainya seminar-seminar tentang _‘Bela Negara’_ melibatkan intelektual negeri hingga pelatihan khusus petinggi negeri dengan tema inti _“Bela Negara"_.
Memang hari ini banyak ancaman terhadap negeri yang mayoritas muslim terbesar di dunia ini. fakta pun menunjukkan keadaan angka kemiskinan semakin tinggi, kriminalitas meningkat, dan ancaman disintegrasi dengan aksi terorisme/separatisme semakin berani ditampakkan. Kebebasan kaum muslimin dalam menjalankan agamanya menjadi terganggu. Atau munculnya kostum berlambang _palu-arit_ yang menunjukkan _Ideologi Sosialisme-Komunisme_ ingin bangkit di negeri ini. Yang dianggap lebih urgen adalah nilai-nilai falsafah Nusantara yang tertuang dalam Pancasila banyak dilanggar.
*Ancaman di Bumi Nusantara*
Ancaman nyata yang merasuki Nusantara telah terbukti, _Pertama_ adalah *Komunisme* yang telah membunuh banyak nyawa Ulama dan tentara Indonesia hingga darah dan harta rakyat seolah tanpa arti. Dalam kurun 20 tahun awal proklamir bumi Nusantara merdeka, _Komunisme_ menjelma menjadi sebuah partai politik *(Partai Komunis Indonesia)* yang ketika itu banyak terjadi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh agama dan perampasan harta rakyat. Belum lagi pendangkalan aqidah dimana Ideologi _Komunisme_ tak mengakui adanya Tuhan. Kemudian tahun 1965 nyawa para Tentara Nasional Indonesia pun diburu. *Peristiwa G30SPKI* terjadi tepat pada tanggal 30 September 1965 hingga 10 Jenderal terbaik Indonesia dibunuh dengan sangat keji, kejam dan sadis, kemudian dibuang ke dalam lubang buaya. Jadi jelas, _Ideologi Komunisme_ adalah ancaman nyata yang hari ini ingin bangkit dan pantas di bungkam. Trauma para tentara dan anak-cucu Ulama masih terasa hingga sekarang. Hal ini jelas telah melanggar Sila pertama Pancasila dimana Indonesia adalah negeri yang berketuhanan.
_Kedua,_ Pembantaian yang tak beradap yang terjadi di Nusantara yang terus terjadi. Seperti *Densus 88*, atau kelompok separatis yang telah membunuh banyak nyawa tentara dan warga, hal ini tentu tidak sesuai dengan Sila kedua dalam pancasila. Atau penjajahan atas dunia oleh Amerika dan Eropa bersama sekutunya yang terus terjadi. Begitu juga dengan pendudukan *Zionis Israel* _la’natullah ‘alaih_ atas Bumi kaum muslim Palestina sejak 1948 silam hingga saat ini. semua itu jelas bertentangan dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dimana hal itu dituntut untuk dihapuskan. Atau perbuatan begal dan premanisme sangat tidak beradap hari ini banyak menghantui di tengah-tengah aktivitas warga.
_Ketiga_, terjadinya Disintegrasi Provinsi Timor Timur menjadi negara *Timor Leste* jelas tidak sesuai dengan Sila ketiga dalam Pancasila. *Organisasi Papua Merdeka* (OPM) dan *Republik Maluku Selatan* (RMS) semakin nyaring terdengar yang mendapat dukungan dari negara-negara di Benua Amerika, Eropa dan Australia tentu sikap yang tidak bisa dibenarkan. Kemudian muncul suara-suara di daerah yang kaya akan sumber daya alam yang ingin memisahkan diri dari bumi nusantara semakin ramai terdengar.
_Keempat,_ Sikap menentukan nasib rakyat, benar dan salah, baik dan buruk melalui voting oleh wakil rakyat dan sikap otoriter penguasa negeri dalam memberikan kebijakan tentu telah meninggalkan sikap musyawarah yang dituangkan dalam Sila keempat falsafah bangsa.
_Kelima,_ Sila kelima Pancasila memberikan harapan berkeadilan bagi seluruh warga belum berhasil hingga kini. Keadilan hanya dimiliki diantara orang-orang kaya saja. _Para koruptor_ yang mencuri dari hasil pajak atas rakyat kemudian dinikmati hanya golongan dan keluarga mereka namun _utang negara Indonesia yang menembus Rp.4.000 Triliyun_ akan ditanggung sama rata oleh seluruh warga.
*Syariah Islam membela Pancasila*
Syariah Islam bila diterapkan pasti akan menghasilkan rahmat untuk semesta alam sebagaimana dijanjikan Allah SWT. Maka falsafah bangsa yang dituangkan dalam Pancasila pasti bisa dicapai bila diterapkan _Syariah Islam._
*Bagaimana Pancasila dijaga oleh Syariah Islam?*
_Pertama_, Islam bertuhan Esa, maka Ideologi Sosialisme-Komunisme yang berfaham tidak ada Tuhan jelas ditolak. Dan Islam pun menjamin setiap agama selain Islam dalam menjalankan aqidah dan ibadahnya serta tidak ada pemaksaan untuk memeluk agama Islam. Allah SWT berfirman, _“Tiada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”_. *(TQS. Al-Baqarah [2]: 256)*.
_Kedua_, Islam sangat beradab dan memanusiakan manusia sebagaimana dituntut pada Sila Kedua Pancasila. Rasulullah SAW telah memerintahkan kita untuk adil dan tidak berbuat dzalim dimana menempatkan sesuatu pada tempatnya. _Mungkinkah Rasulullah SAW berbuat dzalim?_ Tentu tidak. Rasulullah SAW yang _ma’sum_ mustahil berbuat _dzalim_, dan kita pun wajib meneladani beliau. Maka pembantaian di atas dunia dan perbuatan begal serta premanisme akan dihilangkan dalam Islam.
_Ketiga_, Islam mengharamkan disintegrasi, jadi tak mungkin Islam memecah-belah negeri. Persatuan Indonesia pun akan semakin kokoh bila kita kembali kepada Syariah Islam. Malah Islam menghendaki penyatuan negeri-negeri dibawah satu kepemimpinan sebagaimana Islam pernah menyatukan 2/3 dunia dibawah satu kepemimpinan. Hal ini pun pernah terjadi di Indonesia sebagaimana Timor-Timur dan pulau Irian menyatu ke dalam wilayah Nusantara.
_Keempat,_ Syariah Islam juga menuntuk banyak musyawarah _(syuro)_ dalam mengambil kebijakan. *Abu Hurairah ra* berkata, _“tidak seorang pun yang aku lihat paling banyak melakukan musyrawarah melebihi Rasulullah SAW terhadap shahabatnya”_. *(HR. Al-Baihaqi).* Tentu Rasulullah SAW sebagai seorang rasul lebih pantas kita teladani, yang banyak melakukan musyawarah untuk perkara-perkara teknis yang belum ditetapkan pelaksanaannya. Namun tidak boleh bermusyawarah pada sesuatu yang telah ditetapkan oleh syariat teknis dan waktu pelaksanaanya. Islam pun telah menetapkan musyawarah adalah perkara sunnah dimana sangat didorong untuk dilakukan.
_Kelima,_ Syariah Islam pun telah menetapkan, bahwa kita harus berlaku adil, tidak hanya diantara manusia, namun kepada seluruh alam sebagaimana ayat pertama tadi. Rasulullah SAW yang memiliki sifat _Siddiq, Amanah, Tabligh,_ dan _Fathanah_ merupakan sosok yang adil. Bagaimana beliau berlaku adil dalam kepemimpinannya. Syariah Islam pun telah menetapkan bahwa pengelolaan kekayaan alam, seperti Hutan, Air, Api (sumber energi dan kekayaan alam lainnya), dikelola oleh negara sehingga distribusinya bisa merata ke seluruh umat sesuai kebutuhannya.
*Khatimah*
Aktivitas bela negara yang selama ini banyak didengungkan dan diusahakan belum menyentuh perkara yang mendasar, maka tak membuahkan hasil yang nyata. Perkara Aqidah dan Ibadah dijamin pelaksanaannya untuk seluruh agama; memanusiakan manusia dengan cara yang beradap akan dicapai dengan pelaksanaan syariah Islam; Penyatuan Nusantara bahkan negeri-negeri lainnya akan bisa dicapai; sikap pemimpin negeri mengedepankan musyawarah dalam mengambil kebijakan untuk umat telah dicontohkan Rasulullah SAW dan kita pun harus meneladaninya; dan keadilan akan dirasakan oleh seluruh umat bahkan rahmat Allah SWT akan diturunkan untuk seluruh manusia bahkan seluruh alam.
Begitulah nilai-nilai Pancasila bila dijalankan dengan Syariah Islam. Dan ini menjadi bentuk syariah Islam dalam membela dan memakmurkan negara. Sebagaimana kita lihat selama ini, nilai-nilai falsafah bangsa yang tertuang dalam Pancasila banyak dilakukan pelanggaran dan tidak bisa terwujud. Maka untuk mewujudkannya hanya bisa dengan penerapan Syariah Islam dalam seluruh sistem kehidupan.
Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [] MZiS

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PANCASILA DAN BELA NEGARA"

Posting Komentar