Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Orangtua Siswa Somasi Sinarmas World Academy

BSD – Sinarmas World Academy akhirnya disomasi orangtua siswa atas tindakan semena-mena terhadap dua pelajarnya. Keluarga korban meminta sekolah bertaraf internasional di kawasan BSD ini menjelaskan penyebab dikeluarkannya dua kakak beradik.
Andi Herdianto, ayah dari siswa CN dan CC yang dikeluarkan dari Sinarmas World Academy terpaksa akan menempuh jalur hukum. Dia juga sudah menyiapkan pengacara untuk menangani kasus ini.
Pengacara orangtua siswa, Feriyawansyah mengatakan pemberian somasi yang dilakukan kliennya terhadap Sinarmas World Academy untuk memberikan kejelasan status hukum terhadap kliennya yang anaknya dikeluarkan tanpa adanya kejelasan.
Menurutnya, langkah hukum bukan dikarenakan membicarakan uang tetapi kejelasan penyebab dikeluarkannya dua anak dari kliennya. “Permasalahan ini merupakan kriminalisasi dan diskriminasi terhadap klien kami yang dilakukan oleh pihak Sinarmas World Academy,”ujarnya saat jumpa pers, Minggu (15/5).
Feriyawansyah menambahkan tim penasihat hukum sudah mengirimkan surat somasi kepada sekolah pada Sabtu (14/5). Hal ini dilakukan untuk memberikan teguran kepada pihak sekolah untuk dapat membicarakan dan memyelesaikan dengan jalan yang terbaik atas kasus yang menimpa anak kliennya.
Dalam surat somasi bernomor 042 itu menuntut pihak Sinarmas World Academy untuk meminta maaf kepada orangtua CN dan CC melalaui media cetak dan elektronik guna memulihkan nama baik dua pelajar tersebut. Selain itu juga kami menuntut sekolah mengembalikan uang sekolah yang sudah dibayarkan karena, telah mengingkari atas janjinya menerima CN dan CC sebagai siswa.
“Kami ajukan pidana dan perdata dengan delik yang disampaikan adalah penipuan dan penggelapan karena, telah menjanjikan sesuatu ternyata tidak mampu memenuhinya sementara perdatanya setiap orang yang dirugikan berhak menuntut kerugiannya,”ungkapnya.
Anggota Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangsel, Budi Trikora Yanto yang turut hadir dalam jumpa pers tersebut mengatakan bahwa pihaknya fokus kepada penanganan perlindungan kepada anak tentang pelanggaran yang dilakukan dalam pendidikan anak,
Menurutnya, dalam kasus CC dikatakan sekolah melakukan pelanggaran yang dapat dikenai hukuman mulai sanksi administrasi sampai dengan pencabutan izin. “Kami berkepentingan membantu korban untuk wujudkan sekolah menjadi sekolah aman bagi siapa saja,” ujarnya.
Budi Trikora menambahkan apa yang dialami CC yang dikeluarkan karena sekolah tidak punya fasilitas pendukung, padahal jelas dalam PP No 17 tahun 2010 setiap satuan pendidikan wajib memberikan akses jadi tidak ada diskriminasi kepada siswa. “Ini bukan sekolah gurem yang tidak mampu sediakan fasilitas pendukung kepada CC,” terangnya.
Lanjutnya, kalau memang tidak memiliki fasilitas untuk CC yang berkebutuhan khusus itu mengapa sekolah menerimanya padahal sejak dari awal sebelumnya sudah diinformasikan terkait kondisi CC oleh orangtuanya dan sekolah menyanggupinya.
“Dia mampu secara akademis pelajaran. Saya rasa tidak menganggu. Ya kalau diganggu secara yang normal juga pastinya akan marah apabila diganggu,” paparnya.
Untuk itu P2TP2A Kota Tangsel mendorong adanya sanksi administrasi kepada sekolah berupa teguran maupun sampai pencabutan izin karena sekolah tersebut menggunakan izin Satuan pendidikan kerjasama (SPK) yang juga harus tunduk kepada koridor hukum di Indonesia.
“Kita ada UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur setiap SPK yg tidak patuh sanksinya bisa macam-macam sampai kepada pencabutan izin,”ujarnya
Sementara pihak bisnis Sinarmas World Academy, Deddy Djaja Ria saat dikonfirmasi melalui telpon, dirinya baru akan memberikan penjelasan Selasa (17/5). “Kami masih banyak agenda, hari Selasa akan kami sampaikan permasalahan yang ada,” ungkapnya.
Sinarmas World Academy diduga telah mengeluarkan dua siswa yang merupakan anak dari Andi Herdianto, warga BSD. Peristiwa ini bermula ketika salah satu anaknya berkebutuhan khusus yakni, CC (15) tiba-tiba diberhentikan dari sekolah bertaraf internasional itu setelah dia mengikuti pelajaran selama hampir tiga semester. Pada 2014, CC lolos seleksi masuk Sinarmas World Academy tingkat SMP, meski diketahui ia merupakan anak berkebutuhan khusus.
Namun, di tengah perjalanan, memasuki semester pertama di kelas 8, CC diberhentikan pihak sekolah secara sepihak. Selain itu anaknya yang lain yakni, CN (8) juga mengalami hal serupa. CN tidak bisa melanjutkan kegiatan belajar mengajar di semester dua lantaran terlambat menyerahkan pembayaran secara early bird.
Orangtua CN sudah mengembalikan kertas daftar ulang ke sekolah dan ternyata memang belum menyertakan surat pembayaran, tetapi dua hari kemudian orangtua CN datang ke sekolah dan menjelaskan bahwa mereka akan melakukan pembayaran umum seperti biasanya.
Bahkan ibu CN yakni, Rossy pun datang ke pihak administrasi sekolah untuk menjelaskan soal keterlambatan pembayaran itu tetapi, pihak sekolah malah menggantung nasib anaknya tersebut. “Kita tidak dapat bangku, padahal kita sudah daftar ulang, dan sekolah pun berjanji April bisa masuk, namun sampai bulan ini, tidak ada kabar terkait pendidikan anak saya,” terangnya.(irm)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Orangtua Siswa Somasi Sinarmas World Academy"

Posting Komentar