Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Masalah KTP Mencuat lagi di Seba Baduy Minta Kolom Agama Diisi Sunda Wiwitan

Acara Seba Baduy.







SERANG – Sedikitnya 1.300 warga Baduy Dalam dan Baduy Luar merayakan Seba dengan mendatangi para kepala daerah. Mereka berjalan kaki sejak Jumat (13/5) lalu dari kampungnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
Tujuan pertamanya yakni mendatangi Ibu Gede alias Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya. Setelah bermalam, pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB rombongan melanjutkan perjalanan ke ibu kota Provinsi Banten melalui jalur Petir.
“Kami berangkat Jumat pagi, namun karena hujan baru sampai pendopo Kabupaten Pandeglang pada sore harinya. Kami berisitirahat di sana kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Serang. Sabtu siang kami sampai di stadion untuk beristirahat baru kemudian ke Pendopo Gubernur untuk menemui Bapak Gede (Gubernur Banten Rano Karno, red),” ungkap Kokolot Baduy Dalam, Ayah Mursid, usai bertemu Rano, Sabtu (16/5).
Setiap tahunnya, kata Ayah Mursid, selain memberikan hasil panen dalam setahun seperti talas, gula, pisang, pihaknya juga membawa misi yang disesuaikan dengan keadaan masyarakat Baduy saat itu.
Terpenting, warga Baduy meminta pemerintah menegakkan hukum dan keadilan demi ketenteraman dan keselamatan masyarakat.
“Kami meminta kepada pemerintah dan pihak keamanan untuk menjaga kelestarian alam di Taman Nasional Gunung Halimun. Kami juga meminta bantuan lahan seluas enam hektar untuk pertanian,” ungkapnya.
Selain itu, warga Baduy juga berharap agar kolom agama di KTP tidak dikosongkan, sebab hal itu menimbulkan polemik ketika suatu saat mereka keluar desa. Seperti diketahui, persoalan KTP ini selalu mencuat hampir setiap tahun.
“Dahulu waktu dipegang pemerintah daerah, kolom agama diisi ada sisinya. Namun setelah dipegang pemerintah pusat, KTP kami dikosongkan. Kami tidak tahu alasannya,” paparnya.
Warga Baduy, kata dia, merasa ditindak secara tidak adil sebab hal itu merupakan hak. Pengisian kolom agama sesuai kepercayaan tersebut, yakni Sunda Wiwitan, menurutnya merupakan hal penting untuk ketenangan warga.
“Terus terang kami merasa tidak tenang. Kami hanya ingin kebijakan pemerintah agar warga Baduy ini ada pengecualian. Satu-satunya penjaga ketentraman kami yaitu dengan pengakuan identitas. Itu hak kami,” tegasnya.
Setiap Seba Baduy digelar, lanjutnya, pihaknya selalu minta agar Bupati Lebak dan juga Gubernur Banten menyampaikan keinginan tersebut ke pemerintah pusat. “Kami telah mengirimkan surat juga kepada bupati. Namun dari jawaban Bupati Lebak dan juga Gubernur Banten, itu bukan kewenangan daerah,” paparnya.
Sejauh ini, lanjutnya, di Desa Kanekes sendiri dihuni kurang lebih 11.660 jiwa namun yang memiliki KTP belum banyak. Di luar Kanekes pun masih banyak yang memegang adat Baduy atau di bwah naungan lembaga adat seperti di Cibengkung, karendeng dan Garehong.
“Memang belum banyak yang memiliki KTP, namun yang memegang pun pada protes. Kalau istilah Sundanya ‘KTP ge teu peuguh, ngaresahkeun hungkul (memiliki KTP juga tidak jelas, cuma bikin resah),” terang Ayah Mursid.
Sementara itu, Gubernur Banten Rano Karno mengucapkan selamat datang kepada warga Baduy yang telah tiba di Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten. Menurutnya Seba Baduy merupakan tradisi yang harus dijaga dan dilestarikan.
“Tanpa Seba Baduy, Banten bagaikan makanan tanpa garam. Tradisi ini sudah menyatu dengan banten. Sekali lagi kami mengucapkan selamat datang saudara kita (warga baduy) dari kanekes,” kata Rano Karno.
Gubernur juga meminta kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan disekitar untuk kehidupan dimasa depan. “Agar lingkungan kita terjaga, alam harus kita pelihara, bumi harus kita rawat, karena kecintaan terhadap lingkungan merupakan ujung tombak dari pembangunan kita sendiri,” ucapnya.
Terkait harapan warga Baduy untuk mencantumkan agama Sunda Wiwitan di KTP mereka, ia berjanji akan segera menyampaikan keinginan tersebut ke Kementrian Dalam Negeri.
“Insyaallah semua usulan, masukan, harapan warga Baduy kita sampaikan ke Kemendagri. Sebetulnya hal ini sudah saya sudah laporkan dan mudah-mudahanan bisa dijawab. Insyaallah nanti kita sampaikan lagi,” kata Gubernur.
Hal yang sama juga dikatakan Sekda Banten Ranta Soeharta. Menurutnya, persoalan agama dan keyakinan bukan terjadi di adat baduy tetapi juga di daerah lain yang memiliki adat juga. Maka dari itu, pihaknya meminta kepada warga Baduy untuk bersabar.
“Nanti pak gubernur akan bicara dengan ibu bupati, yang pasti persoalan KTP sedang diperjuangkan ke Kemendagri, karena ini kewenangan Kemendagri. Terpenting adalah menjaga wilayah Baduy bersama-sama, baik dengan pihak polisi jika ada sesuatu dan tentunya dengan semua pihak,” ucap Sekda.(yul)
Sumber : YULIAWATI SARIPUDIN/TANGSEL POS)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masalah KTP Mencuat lagi di Seba Baduy Minta Kolom Agama Diisi Sunda Wiwitan"

Posting Komentar