Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

KH Abdul Hamid Baidlowi: Said Aqil Siradj menghina Nabi

KH Abdul Hamid Baidlowi (ulama sepuh NU) menyatakan keprihatinan akan meluasnya gerakan Syiah di Indonesia. “Parahnya, NU pun sudah mulai digerogoti akidah Syiah,” kata Kiai Baidlowi yang juga menangisi tahta NU 1 yang kini dijabat alumnus Lirboyo dan Ummul Qura namun akidahnya sesat dan menyesatkan.
Keprihatinan itu dikemukakan KH Abdul Hamid Baidlowi selaku ulama NU dalam memberikan pemandangan umum pada acara musyawarah nasional Ulama dan Ummat Islam di Bandung. Dalam acara itu Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) menyatakan paham Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Fatwa sesat itu dikeluarkan FUUI dalam acara “Musyawarah Ulama dan Ummat Islam Indonesia yang ke-2″ di Masjid Al-Fajr, Bandung, Jawa Barat, Ahad (22/4), dengan agenda tunggal “Merumuskan Langkah Strategis untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syiah” yang diselenggarakan FUUI pimpinan KH. Athian Ali M. Da’i, MA., Lc.
Di samping itu Kyai Thohir Al-Kaf dari Al-Bayyinat Surabaya juga prihatin adanya orang yang merusak Islam dengan bukunya berjudul Islam Aktual. Orang itu tinggal di Bandung dan dia sebut Dajjaluddin (Dajjalnya agama).
Dari pemandangan umum itu ketika musyawarah menghasilkan rekomendasi, maka di atara isinya menegaskan:
  • Mengajak bertaubat kepada seluruh tokoh dan penganut syiah agar kembali kepada ajaran Islam yang benar (Ahlussunnah Wal Jama’ah) dan apabila tidak, maka akan memproses secara hukum mereka sebagai bentuk penistaan agama seperti pada kasus Jalaluddin Rakhmat di Makassar dan kasus Tajul Muluk di Sampang Madura.
  • Mengusulkan kepada UIN Alauddin Makassar agar meninjau kembali rencana pemberian gelar doktor by riset kepada Jalaluddin Rakhmat , yang ditengarai sebagai tokoh  penggiat syi’ah di Indonesia.
  • Menginformasikan seluas mungkin mengenai keberadaan para aktivis, lembaga, penerbit, buku, dan media lainnya tentang organisasi dan gerakan Syi’ah maupun para pendukungnya. (rekomendasi selengkapnya, lihat judul Hasil lengkap Musyawarah ‘Ulama dan Ummat Islam Indonesia tentang Langkah Strategis Hadapi Aliran Sesat Syi’ah).
Dalam kesempatan memberikan pemandangan umum, KH Abdul Hamid Baidlowi yang jalannya sudah dipapah ini dengan lantangnya mengatakan, Said Aqil Siradj telah menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dua kali. Kyai Abdul Hamid Baidlowi menegaskan bahwa dirinya ada datanya, dan ucapannya itu dia tanggung sendiri, jangan bawa-bawa panitia.
Perlu diketahui, dalam tulisan Kyai Hamid yang menyoroti Said Aqil Siradj dan sesatnya Syi’ah di antaranya diungkap:
Selanjutnya Khumaini tidak segan menuduh Nabi Muhammad SAW dengan tuduhan yang penuh degan kebohongan dan kepalsuan sebagai berikut:
“Dan telah menjadi kenyataan bahwa jika Nabi Muhammad SAW. Benar menyampaikan perintah mengenai imamah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. dan berupaya untuk hal itu niscaya tidak timbul semua perselisihan, pertentangan, peperangan di negara-negara Islam, dan tidak akan timbul dalam pokok agama maupun cabangnya.” (Kasful Asror halaman 55). Di sini  Khumaini dengan tegas menuduh Nabi SAW adalah sumber perpecahan, pebedaan, pertentangan dan peperangan di kalangan umat Islam.
Peserta halaqoh yang terhormat, betapa kejamnya Khumaini dan demikianlah lagu irama orang-orang Syi’ah. Jika Khumaini menuduh Nabi SAW dengan penuh kebohongan maka Said Aqil pun pernah menuduh Nabi SAW dengan penuh kepalsuan. Dengan bukti ucapan Said Aqil bahwa Nabi Muhammad SAW. di dalam meredam kesukuan (qobilah) tidak tuntas. Sungguh ini merupakan penghinaan yang kejam Said Aqil terhadap Nabi Muhammad SAW. yang jelas-jelas bertentangan dengan nash Al-Qur’an:
( وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣)
Artinya:
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya, demikain Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”  (Surat Ali Imron ayat 103).
Di sini jelas bahwa ucapan Sa’id Aqil di atas bertentangan dengan nash Al-Quran yang shorih karenanya ucapan tersebut kufur hukumnya.
Hal itu sama dengan pada saat Said Aqil menvonis Nabi “Kalau itu (Hadist Turmudzi) shohih dan memang 73 golongan terjadi persis jelas Rosulullah salah” (Aula, April 1996, hal. 73). Pantaskah itu diucapkan oleh seorang muslim? Pantaskah ucapan itu dilontarkan oleh orang yang konon kabarnya lulusan Ummul Quro (Mekkah) yang merupakan kota pusat lahirnya Islam pertama kali? (Menyiasati Bahaya Syiah di Kalangan Nahdlatul Ulama Oleh KH. Abdul Abdul Hamid Baidlowi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem Rembang Jawa Tengah, 17 January 2012 | Posted by:nahimunkar.com)
***
Dua kali menghina Nabi
Apa yang disebut dua kali Said Aqil Siradj menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dapat ditelusuri, ada penjelasan dalam Buku Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU Karya KH. Muh. Najih Maimoen kyai NU pula di antaranya sebagai berikut:
Said Aqil dalam makalahnya (Dr. Said Agil Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, red nm) yang dipresentasikan dalam Seminar Nasional PMII di Jakarta, 8 Agustus 1995, dan di Kantor PBNU pada tanggal 19 Oktober 1996, yang banyak kami temukan dalam makalah tersebut banyak kejanggalan dan kesalahan yang amat fatal, tiga diantaranya adalah:
1.    Sejarah mencatat, begitu tersiar berita Rasulullah wafat dan digantikan oleh Abu Bakar, hampir semua penduduk Jazirah Arab menyatakan keluar dari Islam. Seluruh suku-suku di tanah Arab membelot seketika itu juga. Hanya Madinah, Makkah dan Thoif yang tidak menyatakan pembelotannya. Inipun kalau dikaji secara seksama bukan karena agama, bukan didasari keimanan, tapi karena kabilah. Pikiran yang mendasari orang Makkah untuk memeluk agama Islam adalah logika, bahwa kemenangan Islam adalah kemenangan Muhammad, sedang Muhammad adalah orang Quraisy, penduduk asli kota Makkah. Dengan demikian kemenangan Islam adalah kemenangan suku Quraisy. Kalau begitu, tidak perlu murtad. Artinya tidak murtadnya Makkah itu bukan karena agama, tapi karena slogan yang digunakan Abu Bakar di Bani Saqifah, “al-A’immatu Min Quraisy”, ((Dr. Said Agil Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, halaman 3 alenia V).
2.    a. Di masa-masa awal pemerintahan kira-kira enam tahun pemerintahan Khalifah Utsman keadaan wajar-wajar saja. Semuanya berjalan dengan baik, kemenangan terjadi dimana-mana, katakanlah sukses. Namun dimasa-masa akhir ketika usianya mulai lanjut, Utsman mulai pikun. ((Dr. Said Agil Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, halaman 6 alenia I).
b. Begitupun ketika ditanya tentang pengangkatan Gubernur dan pembantu-pembantu Khalifah yang semuanya dari kalangan famili, ia tegas bahwa itu karena adanya ayat Al-Quran, “Wa Ati dzal Qurba”, utamakan dahulu kerabat. Ketika itu Utsman sudah pikun dan sudah selayaknya mundur. ((Dr. Said Agil Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, Halaman 7 alenia I).
3.    Sejak itu Mutawakkil mendapat gelar Nashirullah (pembela madzhab Ahlussunah Wa al-Jamaah) mulailah lahir Hadits “Sataftariqu Umaty”……..dst, bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan hanya satu yang selamat. Ada lagi riwayat yang mengatakan “Kulluha Fil Jannah Illa Wahid” (semua masuk surga kecuali satu). Persoalannya, kalau kita terima versi “Kulluha Finnar Illa Wahid” timbul pertanyaan: Siapa yang satu itu? Diriwayatkan bahwa Nabi menjawab; “orang yang seperti aku dan Shahabatku” lalu siapa atau madzhab mana, partai mana yang mampu dan berhak menyatakan kami inilah seperti Rasulullah dan Shahabat-Shahabatnya. Dengan demikian Hadits ini sulit diterima keshahihannya. Yang jelas Hadits ini dilatarbelakangi oleh kondisi politik ketika Mutawwakil naik menjadi Khalifah. ((Dr. Said Agil Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, Halaman 15 alenia III).
Dan komentar kami atas kejanggalan-kejanggalan dalam makalah Said Aqil yang telah kami paparkan adalah sebagai berikut:
1)    Said Aqil dalam makalahnya jelas telah memvonis, bahwa penduduk Madinah, Makkah dan Thoif yang memeluk Islam dengan keimanannya, tidak lagi beragama Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW. Sebab kata-kata “hanya Madinah, Makkah dan Thoif yang tidak menyatakan pembelotannya, ini pun kalau dikaji secara seksama, bukan karena agama, bukan didasari keimanan tetapi karena kabilah”, mengandung arti, bahwa penduduk Madinah, Makkah dan Thoif keluar dari Islam hanya saja tidak menyatakan pembelotannya, yang semata-mata karena fanatisme kesukuan. Tuduhan yang sangat keji ini juga tertuju kepada Nabi Muhammad SAW.
Penilaian Said Aqil ini jelas bertentangan dengan fakta sejarah yang terekam dalam tarikh-tarikh Islam yang mu’tabar. Dan terhadap pribadi Said Aqil berlaku sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Kitabul Adab dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman.
2)    Kata “Pikun” yang dialamatkan kepada Utsman bin Affan oleh Said Aqil, merupakan penghinaan dan caci maki terhadap pribadi Shahabat Utsman, Khalifah Nabi yang ketiga serta pernah menjadi menantu Rasulullah (dua kali). Perbuatan dan ucapan yang demikian ini jelas termasuk dosa besar (kabair) berdasarkan Hadits Nabi riwayat Muslim dalam bab: “Diharamkan Mencaci-Maki Shahabat”.
3)    Bagaimana bisa, dan memakai apa, orang semacam Said Aqil menyatakan Hadits “Sataftariqu Umaty” sulit diterima keshahihannya, bahkan sampai mengatakan Hadits tersebut dilatar belakangi politik ketika Mutawakkil menjadi Khalifah? Padahal Hadits di atas oleh Imam Turmudzi dikatagorikan Hadits yang Hasan dan shahih? Dengan demikian Said Aqil berarti memandulkan Hadits yang dinyatakan shahih Imam Turmudzi dan lainnya.
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (تَفَرَّقَتِ اليَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً أَو اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى مِثْل ذَلِكَ وَتَفَرَّقَ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً), رواه الترمذي.
وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إسْرَائِيْلَ حذو النَّعْل باِلنَّعْل حَتَّى أَنْ كَانَ مِنْهُمْ مِنْ أُمَّتِي أُمَّة عَلاَنِية لَكَانَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَصْنَع ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إلاَّ مِلَّة وَاحِدَة ), قال : من هي يا رسول الله ؟ قال : (مَا أَناَ عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ), رواه الترمذي.
Dalam menilai Shahabat Utsman, Said sungguh keterlaluan dengan mengatakan sayyidina Utsman pikun, melakukan Nepotisme, menghambur-hamburkan uang, seakan Said merasa lebih mulia daripada Shahabat. Perbuatan dan ucapan Said termasuk dosa besar bahkan bisa kufur.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم : (لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ). رواه مسلم.
(Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU Karya KH. Muh. Najih Maimoen)
***
Berita tentang acara FUUI tempat menyampaikan pemandangan umum KH Abdul Hamid Baidlowi itu sebagai berikut:
Forum Ulama Ummat Indonesia Nyatakan Syiah Sesat
Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) menyatakan paham Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Fatwa sesat itu dikeluarkan FUUI dalam acara “Musyawarah Ulama dan Ummat Islam Indonesia yang ke-2″ di Masjid Al-Fajr, Bandung, Jawa Barat, Ahad (22/4), dengan agenda tunggal “Merumuskan Langkah Strategis untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syiah” yang diselenggarakan FUUI pimpinan KH. Athian Ali M. Da’i, MA., Lc.
Pada akhir acara, FUUI mengeluarkan Fatwa tentang Syi’ah yang berisi tiga poin utama, yaitu:
  1. Pribadi atau kelompok yang meyakini, mengajarkan dan menyebarkannya secara keseluruhan maupun sebagian dari faham Syiah di atas, yang meyakini dirinya pengikut syiah maupun tidak, adalah sesat dan menyesatkan serta berada di luar Islam.
  2. Umat Islam wajib membatasi interaksi, baik pribadi maupun kelompok dengan pengikut faham Syiah untuk menghindarkan diri dan keluarga dari pengaruh ajaran sesat mereka.
  3. Pemerintah Indonesia berkewajiban mengambil tindakan terhadap pribadi maupun kelompok Syiah, karena telah menodai kemurnian ajaran Islam sekaligus untuk menghindarkan konflik yang lebih besar sebagaimana terjadi di negara-negara lain.
Acara tersebut dihadiri Gubernur Jawa Barat H. Ahmad Heryawan, Lc, dan Wali Kota Bandung H. Dada Rosada yang turut memberikan sambutan. Sambutan juga diberikan dari perwakilan berbagai ormas Islam, seperti Persis, Al-Irsyad, Muhamadiyah, dan NU. Beberapa perwakilan dari Majelis Habaib juga datang, bahkan Majelis Persatuan Ulama Aceh juga turut hadir.
Persis (Persatuan Islam) mengungkapkan, geliat Syiah saat ini sudah bersifat provokatif. Penganut Syiah sudah berani sholat di masjid-masjid Sunni dengan gaya sholat ala Syiah.
KH Abdul Hamid Baidlowi (ulama sepuh NU) menyatakan keprihatinan akan meluasnya gerakan Syiah di Indonesia. “Parahnya, NU pun sudah mulai digerogoti akidah Syiah,” kata Kiai Baidlowi yang juga menangisi tahta NU 1 yang kini dijabat alumnus Lirboyo dan Ummul Qura namun akidahnya sesat dan menyesatkan.
Dari perwakilan Habaib, ada KH. Thohir Al-Kaff yang diisukan sebagai penganut Syiah. Habib Thohir tidak menampik hal itu. Ia mengaku dulu pernah belajar dari ulama-ulama Syiah, bahkan kini tetap bergaul dengan mereka. “Namun keberadaan saya tetap untuk memerangi Syi’ah,” tandas Habib Thohir seperti dikutip situsmuslimdaily.net.
Habib Thohir mewanti-wanti, Syi’ah sangat licik dalam memutarbalikkan fakta. Ia menyarankan, untuk mengetahui akidah Syi’ah bisa dibuka kitab suci mereka seperti Tadzkiroh. Namun sayang, kitab itu tidak mudah didapatkan. (MuslimToday.net).* Posted by muslimtoday on Apr 22, 2012

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KH Abdul Hamid Baidlowi: Said Aqil Siradj menghina Nabi"

Posting Komentar