Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Catatan Kebudayaan Budi Sabarudin : Yuyun di Negeri para Pendosa

Di negeri ini ada saja peristiwa biadab. Salah satunya kasus yang menimpa Yuyun di Bengkulu. Perempuan berusia 14 tahun itu diperkosa beramai-ramai oleh 14 orang pemuda hingga tewas. Yuyun juga masih sekolah di SMP 5 Satu Atap, Padang Ulah Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu.
Ada apa sebetulnya dengan negeri ini? Apakah negeri ini memiliki begitu banyak dosa?
Tentu saja negeri ini tidak bersalah. Negeri ini tetap saja masih bernama Indonesia, masih NKRI. Negeri ini juga tidak memiliki dosa apa-apa. Namun yang salah para penghuninya. Di negeri ini sudah terlalu banyak manusia-manusia pendosa dan terkutuk.
Manusia-manusia pendosa itu adalah manusia-manusia yang sudah kehilangan karakter keindonesiaannya yang santun, ramah, guyub, senang bergotong royong, dan peduli atau mudah empati terhadap nasib sesama. Mereka kini berubah menjadi manusia-manusia yang terjebak pada perilaku-perilaku kekerasan.
Tentu ada banyak bentuk kekerasaan yang dilakukan manusia pendosa dan terkutuk itu. Salah satunya kekerasaan seksual seperti yang dilakukan 14 orang pemuda terhadap Yuyun yang masih belia itu. Para pemuda itu tergolong orang-orang bejat, karena mereka sudah tidak memiliki lagi standar moral, etika, dan nilai-nilai.
Tentu saja banyak faktor mengapa mereka bisa menjadi orang-orang sadis dan biadab, yakni memperkosa dan setelah memperkosa dengan bengisnya membunuh Yuyun. Salah satunya minuman keras. Setelah mereka menenggak minuman keras, mereka pun hilang ingatan, hilang kesadaran, mabuk, dan gila.
Sungguh sangat tepat Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang dulu di era Walikota Wahidin Halim membatasi peredaran dan penjualan minuman keras dengan Perda Nomor 7 tahun 2005. Wahidin sadar betul minuman keras bisa merusak peradaban bangsa ini. Dengan minuman keras juga orang-orang bisa menjadi seorang atheis, tidak beragama, dan melupakan atau tak ingat Tuhan.
Sejatinya peraturan semacam itu juga diikuti oleh daerah-daerah lain, termasuk juga di pusat. Hal itu sangat penting karena minuman keras bisa mengubah struktur pikiran manusia yang normal dan rasional menjadi manusia abnormal dan irasional. Intinya, dengan minuman keras manusia bisa menjadi rusak dan brengsek.
Kasus kekerasan seksual juga tak hanya dipicu oleh minuman keras, karena sesungguhnya banyak faktor di dalamnya. Salah satunya kehidupan pornografi yang sudah mengepung sendi-sendi kehidupan bangsa ini secara masif, bebas, dan tanpa tedeng aling-aling.
Di berbagai media seperti televisi, koran, dan online serta media sosial, pornografi juga sudah dipertontonkan sedemikian kasar, bebas, dan sedemikian bengis. Hampir tiap hari anak bangsa ini bisa menyaksikan pornografi seperti artis-artis memakai pakaian yang terbuka dan memamerkan wilayah-wilayah sensualnya.
Suka tidak suka, pornografi itu akhirnya mempegaruhi cara berpikir dan tingkah laku anak bangsa ini. Tak heran jika kemudian banyak sekali generasi muda yang terjebak pada pergaulan bebas, seks bebas, dan bahkan menjadi pekerja seks komersial.
Negara tentu saja tidak boleh main-main menyikapi persoalan ini. Namun sebaliknya harus lebih serius. Salah satunya tegakkan hukum terhadap para pelaku kekerasan seksual itu. Mereka harus dihukum mati seperti kata Fahira Idris, anggota DPR RI. Jika tidak manusia-manusia pendosa itu akan lebih bar-bar dan menjadi predator orang-orang sehat dan waras.(*)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Kebudayaan Budi Sabarudin : Yuyun di Negeri para Pendosa"

Posting Komentar