Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Catatan Budaya Budi Sabarudin, Negeri Sakit


BERITA tentang kejahatan seksual terhadap anak-anak, dari mulai pelecehan dan pencabulan hingga pemerkosaan yang berujung pada pembunuhan, baik yang dilakukan oleh anak-anak remaja maupun orang dewasa, di negeri ini semakin marak, parah, dan memilukan.
Sejak kasus sadis yang menimpa Yuyun di Bengkulu yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 pemuda mabuk minuman keras, beritaberita serupa terus bermunculan seperti yang menimpa perempuan Kelas 1 SMP di Surabaya yang diperkosa oleh tujuh orang yang masih remaja dan bahkan diantaranya ada yang masih anak-anak.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) sebetulnya sudah mengingatkan dengan memberi alarm atau tanda bahaya tentang kasus-kasus kejahatan itu. Sebab kasus kejahatan seksual yang dilakukan secara kolektif seperti dilakukan oleh teman-teman sekolah sudah terjadi sejak tahun 2013.
Komnas Perempuan juga merelease data kejahatan seksual pada tahun 2016. Jumlah kasus kejahatan seksual seperti di Ranah Personal sudah mencapai 321.752 kasus yang terbagi kasus perkosaan sebanyak 72 persen atau 2.399 kasus, pencabulan 18 persen atau 601 kasus dan pelecehan 5 persen atau 166 kasus, sedangkan kejahatan seksual di Ranah Publik sebanyak 31 persen atau 5.002 kasus dengan kekerasaan seksual terhadap perempuan mencapai 61 persen atau paling tinggi.
Sesungguhnya kejahatan seksual yang banyak terjadi belakangan ini, temasuk yang menimpa perempuan berusia 10 tahun di Lampung yang diperkosa 10 orang hingga tewas, membuat hati kita betul-betul prihatin dan itu menunjukkan betapa negeri ini sedang sakit, baik itu mentalnya maupun jiwanya.
Kalau mau jujur, sebetulnya kejahatan seksual bisa marak seperti saat ini karena dipengaruhi oleh tiga hal, yakni pornografi, obat-obatan, dan minuman keras. Seiring dengan perkembangan teknologi, baik itu melalui internet seperti media sosial, youtube maupun gadget, hal-hal yang berbau pornografi begitu mudah diakses anak-anak bangsa di negeri ini.
Kasus itu sudah terang benderang menimpa seorang perempuan di Surabaya itu. Salah satu pelakunya yang masih bocah SD mengaku melakukan pemerkosaan karena sering melihat video porno. Pelaku lainnya menggunakan obat-obatan sebelum melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan, sedangkan factor minuman keras terjadi menimpa Yuyun di Bengkulu.
Pemerintah tentu saja harus segera menyikapi pornografi, obat-obatan, dan minuman keras. Tekonologi memang menyimpan hal-hal yang positif, namun di balik itu bisa membunuh anak-anak yang belum dewasa dalam bertindak dan berpikir. Langkah yang dibutuhkan pemerintah segera antisipasi pornografi tersebut.
Terkait obat-obatan dan minuman keras tentu saja pemerintah tidak perlu kompromi lagi. Keduanya harus diberantas sehingga tidak ada lagi ruang-ruang untuk menjual obat-obatan dan minuman keras di kalangan masyarakat, apalagi masyarakat kelas bawah.
Memang sekarang ada wacana hukuman terhadap pemerkosa harus diperberat seperti hukuman 20 tahun, seumur hidup, hukuman mati dan ditambah dengan pengkebirian. Namun jika ketiga faktor itu (pornografi, obatan-obatan, minuman keras) tidak dibereskan secara serius atau tidak diberantas, kasus-kasus pemerkosaan akan terus terjadi, akan terus berulang. Itu yang tidak kita inginkan di negeri sakit ini.(*)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Budaya Budi Sabarudin, Negeri Sakit"

Posting Komentar