Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Tentukan Syarat Peninggian Gedung, Ahok: Langit Jakarta Milik Saya

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) punya tambahan cara untuk pembangunan Ibu Kota. Ia menggunakan sistem premanisme legal untuk 'memalak' perusahaan atau pengembang yang membangun gedung.

Ahok bakal mengizinkan pengembang yang ingin menambah Koefisien Luas Bangunan (KLB) menambah ketinggian gedung, asalkan mereka mau memberi kontribusi untuk pembangunan Jakarta.

"Kamu kalau mau naikkin gedung KLB, misalnya luas tanah 1 Hektare, KLB 5 kamu boleh bangun 50 ribu meter persegi. Minta KLB jadi 7 boleh? Boleh, tapi, 'Hei, kamu bayar. Jadi 7 kan tambah 2, 2 kali 10 ribu berarti kamu nambah 2 Hektare, seolah-olah kamu punya tambahan 2 Hektare ke langit,'," ungkap Ahok.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara groundbreaking Flyover Semanggi, Jumat (8/4/2016). KLB sendiri merupakan total maksimal luas bangunan dibandingkan luas tanah. Ini merupakan bagian pertama dari empat peraturan yang harus dipenuhi sebelum mendesain bangunan.

Ahok pun berkelakar, pengembang boleh menambah ketinggian hingga setinggi langit. Namun tentu ada syaratnya.

"Langit punya siapa? Yang di bawah kuasa pemerintah dong sesuai dengan undang-undang. Air, tanah, udara dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," kata Ahok.

"Jadi kamu (pengembang) mesti bayar nih ke saya. Langit Jakarta punya saya, bapak dan ibu. Tapi udara nggak bisa dijual. Bayarnya pakai uang? Enggak boleh. Bayarnya pakai pembangunan yang saya tunjuk-tunjuk," tambahnya.

Mantan Bupati Belitung Timur itu pun cara pembayaran kelebihan KLB yang ia syaratkan adalah dengan membangun infrastruktur di Jakarta. Kemudian juga bahwa gedung-gedung itu juga mau dilewati oleh transportasi massal seperti MRT dan LRT.

"Mau bangun sampai langit juga enggak apa-apa. Tapi tambahin dong buat Pemda. Kamu bayarnya bukan dalam bentuk duit tapi dalam bentuk bangunan," ucap Ahok.

Model 'premanisme legal' itu sudah mulai dijalankan Pemprov DKI. Bahkan proyek pembangunan Jembatan Semanggi baru diresmikan Ahok untuk segera dimulai itu juga hasil ia memalak dari sebuah perusahaan Jepang.

"Ini kan Mori dari Jepang, mau naikkin gedung dekat Benhil boleh enggak? Boleh. setinggi langit juga boleh, tapi dibayar dong. Kemarin hitung-hitung dia harus bayar Rp 800 M. Ya jangan masukin ke APBD dong, kalian yang garap (pembangunan Flyover Semanggi), biar enggak repot kita," terang suami Veronica Tan itu.

Dari hasil memberi izin peningkatan KLB, Ahok mengaku sudah mendapat untung besar dengan perhitungan sekitar Rp 4 triliun. Dari hasil itu, ia pun akan memalak pihak pengembang untuk membangun sejumlah infrastruktur.

"Sekarang di mana sudah ada pengembang yang berani minta penambahan KLB, terutama yang lewat jalur-jalur transportasi massal seperti berbasis rel, MRT ato LRT, atau kereta api. Maka mereka boleh menaikan sampai maksimum 14," beber Ahok.

"Waktu dia naikkan dia harus bayar. Bayar kami bukan dalam bentuk uang. Ini namanya kontribusi tambahan, yang kami ciptakan. Berapa persen? ada rumusmya, dikalikan NJOP. Seperti sekarang kami suda dapat cadangan uang Rp 4 T untuk membangun," imbuh dia.

Untuk pembangunan sendiri, Ahok berencana ingin menggarap wilayah Kota Tua dan Monas. Sementara dengan dana APBD, Pemprov DKI kini sedang membangun 9 simpang baik jalan layang maupun terowongan.

"Tahun ini akan selesai. Kalau kalian lihat di Kuningan, sama di Permata hijau, bisa dilihat bermanfaatnya jalan yang kami bangun. Tahun ini kami akan bangun 9. Sama kayak rusun tahun ini 20, 188 unit. Tahun depan mungkin 56 ribu unit kita akan bangun rusun," terang Ahok.

Merasa punya cadangan uang banyak, Pemprov DKI pun disebutnya ingin jumawa. Ahok menyatakan bahwa DKI sebagai wilayah kaya sehingga tak segan jor-joran dalam perihal pembangunan.

"Kami mau beli bekas Kedubes Inggris, mau buat taman. Kalau orang antri nunggu di situ saja. Paling Rp 500 M. masih kecil. Kaya kok kita. Makanya kalau orang bilang saya arogan, ya memang, orang kita kaya kok," tutup mantan politisi Partai Gerindra tersebut.


(elz/dnu)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tentukan Syarat Peninggian Gedung, Ahok: Langit Jakarta Milik Saya"

Posting Komentar