Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Rumah Sakit dan Warteg Dipukul Rata


Pemkot Dituding Bayar Lahan Flyover Gaplek Tidak Berdasar Tim Appraisal


PAMULANG – Warga Gaplek, Kecamatan Pamulang menuding Pemkot Tangsel tidak berdasarkan tim appraisal dalam membayar tanah untuk pembebasan flyover di wilayah mereka. Harga semua lahan dipukul rata, tidak melihat bentuk dan luas bangunan.
Sejak tiga tahun silam, Pemkot telah menganggarkan ratusan miliar untuk pembebahan lahan Flyover Gaplek. Namun selalu gagal karena terdapat penolakan dari warga. Pada 2015 kemarin mulai diberlakukan pembayaran tapi, hingga tahun ini, masih ada sekitar 110 ahli waris yang tetap tak mau digusur.
Dari 110 pemilik itu total luas lahan sekitar 23 ribu meter per segi. Saat ini pembebasan berdasarkan data dari Badan Pertanahan (BPN) Kota Tangsel telah mencapai sektiar 80 persen. Sisanya masih dalam perkara kasasi.
Proyek pembangunan jembatan layang dengan panjang 1 kilometer dengan lebar 35 meter tersebut akan menggusur sejumlah bangunan seperti, Rumah Sakit (RS) Bhineka Bakti Usada, pusat onderdil mobil, gereja, swalayan, kantor pos, dan kantor PLN Cabang Ciputat serta bangunan lainnya.
Sebagian warga yang sudah dibayarkan telah ada yang membongkar bangunannya sendiri. Mereka memundurkan bangunan rumah atau tokonya dari garis yang sudah ditentukan oleh Pemkot Tangsel.
Kuasa Hukum Warga Gaplek, Endang Hadrian menjelaskan persidangan terakhir di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang sebelum dilimpahkan ke Mahkamah Agung (MA) telah menghadirkan saksi ahli appraisal. Dalam keterangan saksi ahli disebutkan tim appraisal dalam menilai objek, tanah dan bangunan tidak dipukul rata tapi, harus berbeda-beda.
“Kami telah mendatangkan saksi ahli dalam persidangan. Dalam persidangan itu disebutkan tim appraisal tidak diperbolehkan memukul rata, harus ada pertimbangan-pertimbangan lain,” katanya.
Berdasarkan analisa itu, maka pemkot bisa saja tidak mengindahkan petunjuk dari tim appraisal yang sudah melakukan kajian lapangan dari berbagai faktor mulai akses jalan, potensi ekonomi saat ini dan ke depan juga kerugian yang ditaksir oleh pemilik bangunan.
“Karena tim sudah merumuskan. Jika ada appraisal pukul rata maka itu tidak tepat. Bagimana mungkin bangunan warteg dengan rumah sakit dihargai sama. Ini jelas tidak adil,” beber Endang.
MA sendiri telah menerima gugatan dari masyarakat atas persoalan yang dialami. “MA telah mengabulkan permintaan 22 warga. Pertama dengan sertifikat sah, kedua meminta Pemkot wajib membayarkan lahan yang belum dibayarkan,” jelasnya.
Endang menilai Pemkot juga telah melakukan kesalahan dengan sistem uang konsinyasi kepada PN Tangerang. Sedangkan, tanahnya masih berstatus quo maka PN Tangerang pasti menolaknya. “Ada yang masih sengketa sudah dilakukan pembayaran. Pemkot salah dong harusnya menunggu dulu jangan melakukan pembayaran,” jelasnya.
Ketua Panitia Pengadaan Lahan Flyover Gaplek, Ismunandar membantah jika Pemkot dinilai tidak berdasarkan tim appraisal soal pembebasan lahan milik warga itu. Menurutnya, apa yang dilakukan Pemkot sudah merujuk pada tim appraisal yang telah melakukan berbagai analisa. Mereka memiliki rumus untuk menilai harga tanah dan bagunan.
“Nilai itu berdasarkan tim appraisal yang sudah mengestimasikan berdasarkan hitung-hitungan mereka,” jelasnya.
Flyover Gaplek mencakup dua kecamatan yakni, Pamulang dan Ciputat dengan tiga kelurahan Pondok Cabe Udik, Pamulang Timur dan Cipayung. Titik temu flyover, mulai depan PLN Ciputat dan Pool Taxi Blue Bird. Untuk desainnya seperti Flyover Casabelanca Jakarta dengan konsep taman hijau.(din)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rumah Sakit dan Warteg Dipukul Rata"

Posting Komentar