Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Mari, Bersungguh-sungguh Menjalankan Ketaatan

Iman seseorang Muslim memang tak jarang mengalami pasang-surut. ”Al-Iman yazid wa yanqush (Iman itu bertambah dan berkurang),” demikian istilah Baginda Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman. Sebab itu, tidak sedikit Muslim yang tidak selalu berada pada puncak
kesungguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Kebanyakan mereka bahkan sering berada dalam level terendah—titik nadir—ketaatan.
Pada sinilah pentingnya setiap Muslim buat selalu melakukan mujahadah an-nafsi (memerangi hawa nafsu) supaya mampu selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan pada Allah SWT.
Allah SWT berfirman (yang artinya): “Orang-orang yang bermujahadah pada jalan Kami sempurna akan Kami tunjuki ke jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang berbuat kebajikan” (TQS al-Ankabut: 69).
Setiap Muslim wajib berada dalam ketaatan pada Allah SWT selama hayat dikandung badan, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Beribadahlah kamu pada Tuhanmu hingga tiba al-yaqin (maut) kepadamu” (TQS al-Hijr: 99).
Ketaatan sesungguhnya mencakup seluruh hal yang wajib serta yang sunnah. Yang wajib jelas tidak boleh ditinggalkan. Yang sunnah pun jangan disepelekan. Keduanya artinya sarana yg mampu mengantarkan pada taqarrub (pendekatan) pada Allah SWT (HR al-Bukhari).
Sayang, karena faktor kesibukan duniawi atau faktor kemalasan, tak sedikit individu Muslim yang tidak selalu bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan ini. Padahal mereka sehat dan punya banyak waktu luang. Tetapi, semua itu tak jarang tak termanfaatkan untuk digunakan baik, kecuali buat urusan dunia ataupun hal yang sia-sia. Padahal Baginda Rasulullah SAW sudah mengingatkan, ”ada 2 kenikmatan yang sering tak dihargai oleh kebanyakan insan: sehat serta ketika luang.” (HR al-Bukhari).
Terkait kesungguhan dalam ketaatan pada Allah SWT ini, tentu kita pantas malu kepada Baginda Rasulullah SAW. Meski beliau telah dijamin masuk surga, ibadah beliau kepada Allah SWT benar-benar luar biasa, seperti orang yang paling takut terhadap azab-Nya. Dalam hal ini, Ummul Mukminin Aisyah RA pernah bertutur: Baginda Rasulullah SAW senantiasa menunaikan shalat malam hingga seringkali kedua kakinya bengkak-bengkak (karena begitu lama beliau berdiri, pen.). Aku pun bertanya pada beliau, ”Mengapa engkau melakukan ini semua, duhai Rasulullah, padahal Allah SWT sudah mengampuni dirimu, baik terkait dosa masa lalu juga dosa yang akan datang?” Baginda Nabi SAW balik bertanya, ”tidak bolehkah jika aku ini menyukai menjadi seseorang hamba yg bersyukur?!” (Mutaffaq ‘alaih).
Demikianlah Baginda Rasulullah SAW. Kebalikannya, diri kita yang tidak dijamin masuk surga sering kali malah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan pada Allah SWT. Padahal sisi lain, kita tidak jarang malah ‘rajin’ melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Astagfirullah.
Memang, tak mudah kita meneladani ketaatan Baginda Nabi SAW. Sebab, jalan ke surga seringkali terhalang oleh berbagai onak dan duri, kebalikannya jalan ke neraka malah dihiasai dengan ragam syahwat (kenikmatan serta kesenangan dunia).
Demikian sebagaimana sabda Baginda Nabi:”Neraka itu dihiasi oleh ragam kesenangan dunia (syahwat), sementara surga tertutupi oleh hal-hal yang tidak disukai.” (Mutaffaq ‘alaih).
Makna di balik ungkapan Baginda Nabi SAW ini adalah: Kita hanya mungkin selamat dari azab neraka jika kita banyak meninggalkan kesenangan dunia, baik yang mubah (halal), makruh, apalagi yang haram. Sebaliknya, kita hanya mungkin bisa masuk surga dengan justru melakukan  banyak  hal  yang  sering  tidak  kita  sukai: kesungguhan  dan  kesabaran  dalam  menjalankan ketaatan.
Di  dalam  banyak  haditsnya  Baginda  Rasulullah banyak  mendorong  setiap  Muslim  untuk  selalu bersungguh-sungguh  dalam  menjalankan  ketaatan. Beliau, misalnya, bersabda, ”Jenazah itu biasa diiringi oleh tiga hal: keluarganya; hartanya; dan amalnya. Dua hal akan kembali. Satu hal akan tetap tinggal. Keluarga dan hartanya  kembali,  sementara  amalnya  tetap  tinggal (menyertai jenazah).”  (Mutaffaq ‘alaih).
Hadits ini secara tersurat mengingatkan kita agar bersungguh-sunguh dalam memperbanyak amal salih karena itulah yang akan menjadi teman setia kita saat kita wafat dan menghadap Allah SWT kelak, bukan keluarga atau harta; kecuali—sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW—anak-anak  yang  shalih,  ilmu  yang  pernah diamalkan dan harta yang pernah disedekahkan sebagai amal jariah.
Baginda  Rasulullah  SAW  juga  pernah  bersabda, ”Hendaklah  engkau  banyak  bersujud. Sebab, tidaklah engkau bersujud satu kali kepada Allah,  kecuali  Dia mengangkat  kedudukanmu  satu  derajat  sekaligus menghapus  dari  dirimu  satu  kesalahan/dosa).”  (HR Muslim).
Semoga  kita  termasuk  orang  yang  selalu bersungguh-sungguh  dalam  menjalankan  ketaatan kepada Allah SWT. Amin. [] arief B Iskandar

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mari, Bersungguh-sungguh Menjalankan Ketaatan"

Posting Komentar