Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah & Haji Plus
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Sahabat SBL Telp. 0859 6661 4393

Pasang IKlan Disini

Bahaya Ide Islam Nusantara

Illustrasi Gaya Islam Nusantara
Bahaya Ide Islam Nusantara

Islam nusantara menjadi isu yang ramai dibicarakan. Pemunculan istilah Islam Nusantara diklaim sebagai ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan 'Islam Arab'.
Sebelumnya kita mengenal istilah-istilah lainya seperti “Islam moderat”, “Islam liberal” dan “Islam radikal” atau “Islam garis keras”. Tak ayal jika banyak yang beranggapan bahwa ini adalah proyek yang tidak jauh berbeda dengan proyek-proyek sebelumnya. Tak tangung-tanggung dalam proyek ini mereka melibatkan para petinggi Negara, petinggi ormas, cendikiawan dan lembaga pendidikan terutama di Perguruan Tinggi Islam.
Salah satu Tokoh yang sering mengkapanyekan Islam Nusantara ini adalah Ketua PBNU Said Akil Siraj. Dalam pembukaan acara Istighotsah menyambut Ramadhan dan pembukaan munas alim ulama NU, Minggu (14/06) di Masjid Istiqlal, Jakarta, ia mengatakan, NU akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam Nusantara.
Seorang pemikir Islam Azyumardi Azra, Doktor lulusan Columbia University, Amerika Serikat, penulis buku Islam Nusantara (2002) dan Islam Subtantif (2000) juga gencar mengapanyekan ide ini. Ia  mengatakan model Islam Nusantara atau Islam Indonesia dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini, karena ciri khasnya mengedepankan "jalan tengah", bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik. Ia  juga menyebut cara pandang "normatif dan idealistis atas Islam" itu sebagai "tidak historis". (sumber : BBC Indonesia).

Kesalahan Dalam Memahami Islam Dan Fakta Sejarah

Ada dua pemahaman fatal yang yang dikemukakan penggagas ide ini. Yang pertama, Islam Nusantara dianggap Islam yang distingtif, Islam Unik. Ini adalah gagasan baru bagi mereka. Mereka memahami bahwa nilai-nilai ajaran Islam yang sudah disesuaikan dengan budaya Indonesia -yang moderat, inklusif dan menjaga adat budaya- berbeda dengan nilai-nilai ajaran Islam yang disesuaikan denagn budaya bangsa lain, terutama bangsa arab yang cenderung kaku, normatif, idealis bahkan menjadi biang konflik.
Kedua, mereka memahami bahwa proses masuknya ajaran Islam ke wilayah Nusantara melalui proses vernakularisasi (disesuaikan kedaerahan). Dengan kata lain Islam disebarkan ke nusantara melalui jalan pendekatan budaya, dan disesuaikan dengan adat istiadat masing-masing daerah.
Pemahaman yang pertama timbul akibat salah dalam memahami esensi Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Mereka mengklaim bahwa sebagai wujud rahmat bagi semesta alam Islam dapat disesuaikan denagn adat dan budaya disuatu bangsa.  Padahal Islam sebagai rohmatan lil’alamin harus difahami sesuai dengan apa yang ada pada sumbernya, yaitu Al-qur’an, hadis, Ijma shahabat dan qiyas syari’.

Allah swt. berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Aku tidak mengutus kamu, melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 2l8)
Dalam tafsirnya, al-Hafidz Ibnu Katsir menfsirkan ayat ini, bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk seluruh makhluk. Semua yang mukallaf. Baik orang arab maupun luar arab. Yang paling mulia diantara mereka, adalah yang paling taat kepada Allah. (Tafsir Ibn Katsir, 6/518).
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw tidak dikhususkan untuk suatu bangsa tertentu melainkan risalah untuk seluruh manusia dari bangsa manapun yang ada didunia.

Kemudian firman Allah swt dalam surat Al-Anbiya ayat 107:

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين
“Dan aku tidak mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”

Para ulama memahami bahwa yang menjadi rahmat bagi semesta alam adalah risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, yaitu risalah Islam yang akan menuntun manusia dari jalan kegelalapan dan kebodohan menuju jalan yang penuh dengan hidayah dan kebenaran.
Dalam penjelasan diatas sangat jelas bahwa islam sebagai rahmat tidaklah diartikan sebagai islam yang dapat disesuaikan dengan adat dan budaya bangsa tertentu, justru sebaliknya ummat manusia harus menrubah dan menghilangkan adat dan budaya yang tidak sesuai dengan Islam.
Adapun pemahaman kedua timbul akibat kesalahan dalam memahai sejarah. Penyebaran islam di Nusantara tidak terlepas dari perjuangan wali songo yang diutus oleh para Kholifah. Indonesia yang semula bercorak animism, dinamisme, hindu dan budha dirubah menjadi bangsa berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia.
Nabi Muhammad saw. telah berhasil secara gemilang menerapkan Islam secara Kaffah dalam bingkai Daulah Islam kemudian diikuti oleh para sahabat dan ummat setelahnya dari generasi ke generasi. Islam memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kemajuan peradaban dunia dan selama 12 abad menjadi Negara adidaya yang tak tertandingi. Islam tidak hanya diterima oleh bangsa Aarab, namun Islam telah diemban dan diterima oleh berbagai macam suku bangsa. Mulai dari bangsa Persia, Afrika, Romawi atau Eropa, India, Cina, dan termasuk bangsa kita. Islam tidak hanya merubah pola pikir mereka, namun Islam telah merubah adat dan budaya jahiliyah yang rusak yang membelenggu mereka selama berabad abad lamanya.
Berdasarkan tinjauan diatas, dapat kita simpulkan bahwa Islam tidak pernah mengalami perubahan semenjak diturunkannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam, dan tidak pernah berubah karena faktor geografis, islam tetap agama yang satu. Bangsa apaun yang menerima Islam, mereka akan menyesuaikan adat istiadat mereka dengan Islam. Budaya yang dianggap menyalahi Islam, harus mereka tinggalkan, dan mereka harus membangun peradaban yang dibimbing oleh hidayah Islam.
Dwitama Spanduk Advertising

Bahaya Ide Islam Nusantara

1.     Propaganda Memecah Belah Ummat

Islam dengan berbagai labelnya seperti “islam Indonesia” atau “islam timur tengah” sebenarnya sama dengan istilah “islam radikal” dan “islam militant” atau yang lainnya. Pengkotak-kotakan seperti ini sebenarnya murni merupakan bagian dari strategi barat menghancurkan ummat Islam. Ini sebagaimana yang dituangkan dalam dokumen rand corporation. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah devide et impera atau politik pecah belah.
Ini semakin jelas dengan adanya statemen pimpinan JIL, Ulil Abshor Abdala, dalam akun twiter pribadinya (27/6/2015) mengatakan ,” ciri Islam Nusantara adalah tidak memusuhi syiah dan menganggap mereka bagian sah dari Ummat Islam, beda dengan Islam wahabi dan simpatisannya”. (Islamedia). Tampak jelas dari statemennya ia mencoba menerapkan strategi belah bambu antara dua kelompok Islam.

2.     Penyesatan Politik Dan Pemikiran

Semangat  “Islam Indonesia” yang lahir dari sentimen nasionalisme sangat berbahaya. Nabi saw. sendiri menyebut sntimen nasionalisme itu sebagai muntinah” (barang yang busuk). Apalagi ide “Islam Indonesia” dan “Islam Turki” telah didesain dan dimanfaatkan oleh Amerika dan dan Negara kafir penjajah untuk melepaskan ummat islam dari islam yang sesungguhnya. (Al-Islam, edisi 759)
Pemahaman ini akhirnya menjurus pada perpecahan Islam, menganggap umat islam yang ada di negaranya berlepas diri dari ummat islam yang ada di negri yang lain.
Pemahaman yang lebih berbahaya lainnya adalah adanya tuduhan bahwa islam adalah penyebab dibalik konflik berkepanjangan yang terjadi di Timur Tengah. Padahal sejatinya wilayah itu terus membara akibat strategi penjajahan Barat. Wilayah itu menjadi ajang pertarungan antara Amerika, Inggris dan Prancis. Karena itu mengkambinghitamkan Islam sebagai biang konflik, selain berbahaya, juga memalingkan ummat dari musuh yang sesungguhnya, yaitu penjajah barat dengan sekularisme dan kapitalismenya.

3.     Membendung tegaknya Khilafah ala Minhajinnubuwwah

Barat sangat menyadari kesadaran ummat akan wajibnya menegakan khilafah kian hari semakin meningkat. Mereka melakukan survei dan jajak pendapat untuk mengukur sejauh mana keinginan dan kebutuhan ummat akan khilafah. Mereka melakukan berbagai propaganda, penyesatan opini dan penyesatan pemikiran untuk menjauhkan ummat dari pemahaman Islam yang sesungguhnya. Mereka merayu ummat untuk tetap berpegang pada Sistem Demokrasi dan menerima aturan-aturannya agar selamanya tetap berada dalam cangkraman kafir penjajah.

Allah swt. berfirman dalam surat Al-an’am ayat 112

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن يوحي بعضهم إلى بعض زخرف القول غرورا...

“dan demikian kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan (dari jenis ) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikan sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)…”
.
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya".

Dengan demikian, ide Islam Nusantara sejatinya adalah makar yang diprakarsai oleh kafir penjajah dan para anteknya untuk menipu dan menjauhkan ummat dari Islam yang sesungguhnya, agar ummat tetap menerima demokrasi dan nasionalisme dengan tujuan membendung tegaknya kembali Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallahu a’lam bish-showab.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bahaya Ide Islam Nusantara"

Posting Komentar